"Trrrrr....."
Perangkat genggamku bergetar, sedikit kaget dan entah kenapa dalam hati langsung berpikir "dari dia??", tapi bukan.
Yaaa... Aku baru saja menegur dia dengan cukup keras, tidak mungkin juga sepertinya dia akan menghubungiku secepat itu. Baru sebentar, tapi rasanya sudah kangen.
Aku tahu bukan aku prioritas yang ada di hatinya. Karena itu pulalah aku menunjukkan garis batas yang tegas padanya.
Sejujurnya saat dia menceritakan mengenai kekasihnya itu, membuatku merasa seperti menjadi selingkuhannya dia, dan ini membuatku merasa rendah dan hina. Yaaa.. Kami sebenarnya tidak ada hubungan apapun! But just like people say, there is no friendship between men and women.
Padahal awalnya aku sama sekali tidak terpikir, tidak bermaksud untuk sampai sedalam ini dengannya. Hanya karena merasa dia asik, bisa diajak ngaco, dan aku ternyata hanyut. Aku lupa kalau aku lemah dengan yang gigih dan tahan lama.
Aku lengah, dan kini sedang berusaha menata diri. Berharap bagian diri yang sudah terlanjur remuk, dapat beregenerasi kembali. Tinggal kini kupikirkan, apa yang akan aku mulai terapkan untuk lakukan mulai dari SEKARANG...?
Termenung... Dengan jawaban yang sebenarnya sudah berputar-putar di atas kepala. Apa aku tidak akan menghubunginya sama sekali? Apa aku tidak akan membalas pesan-pesannya sama sekali seandainya dia menghubungiku? Hey! Aku tidak sedang bermusuhan dengan dia! Kenapa harus seperti itu?? Pikirku.
Mungkin.. Setelah kugaris jelas batas ini, perlahan-lahan hubungan kami bisa kembali normal dalam arti yang sebenarnya tanpa ada yang harus menarik diri secara mencolok. Mungkin...

0 件のコメント:
コメントを投稿