Lagi....
Lagi-lagi bola kaca itu jatuh
Jatuh berhamburan dari jendela hati
Lagi...
Lagi-lagi aku membuat kesalahan
Kesalahan yang menorehkan luka lebih dalam di hati
Lagi...
Lagi-lagi aku terlambat
Untuk menarik diri secara aman
Lagi...
Lagi-lagi aku harus mundur
Dengan prajurit yang penuh luka
Kekalahan ini sudah kulihat
Kekalahan ini sudah kuketahui
Sejak awal...
Entah mengapa
Entah apa
Aku tetap melangkah
Menuruti kata hati
Mengikuti ego diri
Dengan mengorbankan prajurit-prajurit
Bangga akan ketahananku menghadapi pertempuran yang kukira sejenis
Bangga akan rekorku mengalahkan musuhku dalam pertempuran yang kukira serupa
Kebanggaanku membuatku kalah
Kebanggaanku membuatku lengah
Kebanggaanku membuatku memandang enteng peperangan di hadapan mataku
Tetapi aku lupa
Dalam setiap pertempuran yang kuanggap kumenangkan
Dalam setiap pertempuran yang tahan kulalui
Selalu berakhir dengan luka yang tidak ringan
Sekarang belumlah terlambat
Sekarang belumlah final
Prajuritku masih tersisa walau sedikit
Meski harus terseok-seok
Meski harus memakan waktu lebih lama
Aku harus mundur
Apakah aku benar-benar bisa mundur?
Sedangkan piala kemenangan yang sudah kuketahui tak mungkin kudapatkan
Tampak begitu menggoda
Namun tak apa
Kini semuanya sudah jelas
Sebening kristal
Dengan berbekal pengetahuan ini
Aku bisa lebih mantap untuk mundur
Yang sebelumnya ragu kulakukan karena berbagai pikiran positif dan kemungkinanku
Terima kasih Tuhan, karena sudah dibukakan begitu jelas
Terima kasih Tuhan, karena sudah mendidikku begitu keras
Sehingga aku bisa menjadi diriku yang berprinsip
Dan tidak membiarkan diri diinjak-injak oleh orang lain.
0 件のコメント:
コメントを投稿