30 Maret 2012. Hari ini adalah hari (yang katanya) puncak kegiatan unjuk rasa di Jakarta untuk menolak kenaikan BBM. Bahkan yang saya dengar, sampai ada orang2 yang diangkut dari luar kota menggunakan truk untuk ikut "meramaikan" dan memperkuat pengaruh dari unjuk rasa hari ini.
Hmmmm..... memang ini berita yang kontroversial, ada yang menerima, dan yang menolak. Meski yang menolak ini memang terlihat lebih mencolok. Karena seberapa pun kenaikan BBM nya, meski hanya sedikit, tapi pengaruhnya pada semua harga barang. Entah saya dingin atau memang cuek, tapi saya pribadi tidak terlalu banyak memikirkan hal ini, naik silakan, kalo enggak ya syukur. Hahaaaa... Mungkin salah satu penyebabnya karena saya ada di antara dua orang yang saling beroposisi. Ayah saya oposisi terhadap kenaikan BBM, sedangkan teman dekat saya mendukung. Dan mereka berdua cukup rajin untuk update opini mereka pada saya. Jadilah saya posisi netral. Hahahaaa....
Kebetulan lokasi kost dan tempat kerja saya sangat berdekatan dengan pusat UNRAS ini, yaaa sedikit was-was. Tapi, saya sendiri punya pemikiran (belum jadi prinsip), ketakutan itu harus dihadapi. Pemikiran inilah yang menjadikan diri saya sekarang ini.
Well, bagi yang berdemo, apapun hasilnya, please don't let your anger come over your head. You'll regret it later, especially if you create a big mess and hurt people. *pray*
Welcome to my world! My thoughts, feeling and everything. I pour my thought and heart in this. This is my diary.
2012年3月30日金曜日
2012年3月27日火曜日
Menipu Diri Sendiri
Halo hari, apa kabarmu?
Aku cerah dan baik-baik saja.
Halo pikiran, apa kabarmu?
Aku segar dan tidak ada yang mengganggu diriku!
Halo hati, apa kabarmu?
Aku sehat dan sangat enerjik!
Hari ini adalah hari yang luar biasa dengan kesegaran luar biasa, karena segalanya luar biasa!
Tidak lagi aku merindukannya
Tidak lagi aku menginginkannya
Tidak lagi aku menangis dalam hati karena dia
Aku sehat, aku segar, dan hari ini semua akan baik-baik saja!!
Aku sudah bangkit, aku sudah bebas dari perasaan ini!!
Selamat pagi, hari
Selamat pagi, Aku
Selamat pagi, cinta...
I no longer feel anything about you
Aku cerah dan baik-baik saja.
Halo pikiran, apa kabarmu?
Aku segar dan tidak ada yang mengganggu diriku!
Halo hati, apa kabarmu?
Aku sehat dan sangat enerjik!
Hari ini adalah hari yang luar biasa dengan kesegaran luar biasa, karena segalanya luar biasa!
Tidak lagi aku merindukannya
Tidak lagi aku menginginkannya
Tidak lagi aku menangis dalam hati karena dia
Aku sehat, aku segar, dan hari ini semua akan baik-baik saja!!
Aku sudah bangkit, aku sudah bebas dari perasaan ini!!
Selamat pagi, hari
Selamat pagi, Aku
Selamat pagi, cinta...
I no longer feel anything about you
Closing my eyes to my own thoughts and feeling.....
2012年3月20日火曜日
Trying To Move On
I hate it
Aku benci ketakutanku
Aku benci ketidaktegasan diriku dalam memutuskan
Aku tahu, aku menyadari sepenuhnya apa yang terbaik bagi diriku dan dia. Aku tahu, aku mengerti, tapi aku menunda, memperpanjang, karena aku belum mau kehilangan dia. Aku masih ingin berinteraksi dengan dia, merasa diperhatikan olehnya, merasa spesial di matanya. Aku egois.
Pada saat mendengar dia mengatakan "mau jadi pacarku?", aku senang sekali, tapi juga galau. Ingin menjawab ya, namun tidak bisa. Akhirnya aku mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain, karena aku belum ingin menjawabnya, kalau aku menjawabnya, aku harus menjawab "tidak", dan aku takut kehilangan dia. Kadang aku berdalih, "aku ingin berbicara langsung dengan dia, empat mata untuk menjelaskan semuanya", tapi kusadari, ini hanyalah alasan yang kubuat untuk memperpanjang, menunda waktu.
Setelah hari itu, aku sadari, intensitas inisiatif dia untuk menghubungiku... tidak ada? Benarkah tidak ada? Aku bertanya pada diri sendiri... Aku tidak tahu. Sempat terpikir untuk membiarkan dia dahulu, sampai benar-benar tenang, berupaya untuk tidak menghubunginya. Aku bersabar sampai sore... sampai malam.... aku tidak bisa, dan akhirnya aku malah menelponnya. Kudengar suaranya yang kurindukan, ingin bertemu... tapi aku takut, bila bertemu, akan semakin suka... Sempat khawatir, sempat takut dia akan menarik diri dari percakapan, dengan membalas seadanya dan agak dingin, tapi tidak, semuanya seperti normal, hanya saja, dia tidak lagi berinisiatif untuk menghubungiku.
Kupikir, biarlah... Mungkin dengan cara seperti ini, pelan-pelan dia akan dapat semakin melupakanku, dapat move on dengan caranya sendiri. Dan saat itu, aku akan tersenyum padanya sebagai seorang sahabat.
Aku benci ketakutanku
Aku benci ketidaktegasan diriku dalam memutuskan
Aku tahu, aku menyadari sepenuhnya apa yang terbaik bagi diriku dan dia. Aku tahu, aku mengerti, tapi aku menunda, memperpanjang, karena aku belum mau kehilangan dia. Aku masih ingin berinteraksi dengan dia, merasa diperhatikan olehnya, merasa spesial di matanya. Aku egois.
Pada saat mendengar dia mengatakan "mau jadi pacarku?", aku senang sekali, tapi juga galau. Ingin menjawab ya, namun tidak bisa. Akhirnya aku mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain, karena aku belum ingin menjawabnya, kalau aku menjawabnya, aku harus menjawab "tidak", dan aku takut kehilangan dia. Kadang aku berdalih, "aku ingin berbicara langsung dengan dia, empat mata untuk menjelaskan semuanya", tapi kusadari, ini hanyalah alasan yang kubuat untuk memperpanjang, menunda waktu.
Setelah hari itu, aku sadari, intensitas inisiatif dia untuk menghubungiku... tidak ada? Benarkah tidak ada? Aku bertanya pada diri sendiri... Aku tidak tahu. Sempat terpikir untuk membiarkan dia dahulu, sampai benar-benar tenang, berupaya untuk tidak menghubunginya. Aku bersabar sampai sore... sampai malam.... aku tidak bisa, dan akhirnya aku malah menelponnya. Kudengar suaranya yang kurindukan, ingin bertemu... tapi aku takut, bila bertemu, akan semakin suka... Sempat khawatir, sempat takut dia akan menarik diri dari percakapan, dengan membalas seadanya dan agak dingin, tapi tidak, semuanya seperti normal, hanya saja, dia tidak lagi berinisiatif untuk menghubungiku.
Kupikir, biarlah... Mungkin dengan cara seperti ini, pelan-pelan dia akan dapat semakin melupakanku, dapat move on dengan caranya sendiri. Dan saat itu, aku akan tersenyum padanya sebagai seorang sahabat.
2012年3月12日月曜日
Tujuan Hidup
Apakah tujuan hidupmu?
Pernahkah suatu waktu ada yang bertanya seperti ini padamu, atau menanyakan hal ini pada diri sendiri?
Biasanya aku tidak pernah terlalu memikirkan ini, karena tadinya kupikir tujuan hidupku sudah jelas dan sudah diatur oleh Yang Di Atas. Tapi hari ini aku berpikir, demi tujuan hidupku ini, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Tapi seringkali, apa yang HARUS dilakukan dengan apa yang DAPAT dilakukan itu tidak seiring. Rasanya sekarang ini aku mengerti apa yang harus kulakukan sekarang, namun rasanya sekarang ini saya belum dapat, belum mampu mengerjakannya dari hati, dengan inisiatif yang tinggi. Aku merasa benar-benar lemah, padahal baru beberapa waktu yang lalu semangatku dalam melakukan ini dibangkitkan oleh temanku, aku benar-benar berterima kasih padanya. Tapi kenapa hanya bertahan sebentar??? Aku kesal, kesal pada diri sendiri. Aku jengkel, kecewa, marah pada diri sendiri. Mengapa motivasi itu tidak bisa bertahan untuk seterusnya, apa sih, yang kurang? Apa sih sebenarnya yang menjadi tuntutan hati ini?!!
Rasanya kembali ke fase mimpi buruk yang sebelumnya kualami. Aku tidak mengerti. Aku tahu, aku harus menjalani jalan ini, tapi aku tidak mengerti bagaimana caranya agar aku bisa menjalaninya dengan sukacita, dengan sepenuh hati, dengan keikhlasan. Aku tidak mengerti!
Pernahkah suatu waktu ada yang bertanya seperti ini padamu, atau menanyakan hal ini pada diri sendiri?
Biasanya aku tidak pernah terlalu memikirkan ini, karena tadinya kupikir tujuan hidupku sudah jelas dan sudah diatur oleh Yang Di Atas. Tapi hari ini aku berpikir, demi tujuan hidupku ini, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Tapi seringkali, apa yang HARUS dilakukan dengan apa yang DAPAT dilakukan itu tidak seiring. Rasanya sekarang ini aku mengerti apa yang harus kulakukan sekarang, namun rasanya sekarang ini saya belum dapat, belum mampu mengerjakannya dari hati, dengan inisiatif yang tinggi. Aku merasa benar-benar lemah, padahal baru beberapa waktu yang lalu semangatku dalam melakukan ini dibangkitkan oleh temanku, aku benar-benar berterima kasih padanya. Tapi kenapa hanya bertahan sebentar??? Aku kesal, kesal pada diri sendiri. Aku jengkel, kecewa, marah pada diri sendiri. Mengapa motivasi itu tidak bisa bertahan untuk seterusnya, apa sih, yang kurang? Apa sih sebenarnya yang menjadi tuntutan hati ini?!!
Rasanya kembali ke fase mimpi buruk yang sebelumnya kualami. Aku tidak mengerti. Aku tahu, aku harus menjalani jalan ini, tapi aku tidak mengerti bagaimana caranya agar aku bisa menjalaninya dengan sukacita, dengan sepenuh hati, dengan keikhlasan. Aku tidak mengerti!
2012年3月8日木曜日
Rindu
Ingin bertemu...
Ingin mengobrol...
Rasanya banyak sekali yang ingin dikatakan
Dilakukan bersama
Namun kau tak disini
Tak boleh disini
Entah bagaimana, rasanya hari ini sangat ingin in touch, berkomunikasi sama dia. Tapi mungkin karena tidak satu frekuensi atau bagaimana, dia sekarang ini sedang cape, entah karena kerjaan, atau karena apa, aku mencoba mengerti, aku mencoba sabar. Aku tidak boleh egois, tidak boleh memaksakan diri, karena semua orang punya keperluannya masing-masing. He's not dedicated to me, neither do I.
Kadang berpikir, rasanya langkah ini sudah terlalu jauh jika hanya sebagai teman, memang belum melewati batas, namun rasanya sedikit lagi saja, batas akan terlewati. Bagaimana baiknya, sebenarnya aku tahu, kepalaku paham, namun keegoisanku masih berjalan, padahal aku tahu, ini hanya akan membuat aku dan dia menderita.
Kalau dipikir-pikir, sudah lama juga kita berkomunikasi hanya melalui dunia maya, berawal dari teman jejaring sosial, mulai "menganggap" keberadaan satu sama lain di dunia nyata setelah berinteraksi di jejaring sosial, mendekat, menjadi teman dekat, teman perang, dan kini... teman curhat...(?). Aku tidak yakin istilah ini tepat, sahabat? Ya, mungkin begitu. Yaa, apapun sebutannya, semua, 90% komunikasi kami, kami lakukan melalui dunia maya. Lalu apakah perasaan yang dirasakan ini juga "maya"? Aku tidak tahu.
Kadang berpikir, seandainya kami tidak berkomunikasi 3 bulan saja, apa yang akan terjadi? Mungkin 3 hari pertama stress, 1 minggu pertama galau luar biasa, ahh... rasanya tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi. Dan singkat cerita, mungkin awal-awal akan menderita luar biasa. NAMUN, apabila komunikasi ini bisa tidak dilakukan selama setidaknya 3 bulan... Apakah perasaan kami satu sama lain akan hilang?
Apakah dia akan bosan?
Apakah dia akan jenuh?
Apakah dia akan capek?
Apakah dia akan segera menemukan yang lain?
Apakah dia justru tidak akan memikirkannya sama sekali?
Mungkin saya kepedean, tapi rasanya tidak. :p
DAN, andaikata setelah 3 bulan tidak ada komunikasi, perasaan kami bisa menjadi netral, dan seandainya 3 bulan kemudian kami bertemu lagi, apakah kami akan kembali terjebak dalam lingkaran setan???
Aku tidak mengerti
Aku tidak mengerti, sejak kapan keberadaanmu begitu besar bagiku?
Aku telah kehilangan kontrol, padahal selama ini aku tidak pernah kehilangan kontrol atas perasaanku. Tidak pernah membiarkan hubungan yang tadinya hanya sekedar teman berubah. Tidak pernah sebelumnya aku menyukai seseorang, bukan karena aku memang suka, tapi karena kedekatan hubungan dan interaksi!! Tidak pernah sebelumnya, aku melewati batas dengan orang yang dari awal hanya kuanggap teman. Tidak pernah!! Kamu istimewa... Sayang, ini menyakitkan.
Ingin mengobrol...
Rasanya banyak sekali yang ingin dikatakan
Dilakukan bersama
Namun kau tak disini
Tak boleh disini
Entah bagaimana, rasanya hari ini sangat ingin in touch, berkomunikasi sama dia. Tapi mungkin karena tidak satu frekuensi atau bagaimana, dia sekarang ini sedang cape, entah karena kerjaan, atau karena apa, aku mencoba mengerti, aku mencoba sabar. Aku tidak boleh egois, tidak boleh memaksakan diri, karena semua orang punya keperluannya masing-masing. He's not dedicated to me, neither do I.
Kadang berpikir, rasanya langkah ini sudah terlalu jauh jika hanya sebagai teman, memang belum melewati batas, namun rasanya sedikit lagi saja, batas akan terlewati. Bagaimana baiknya, sebenarnya aku tahu, kepalaku paham, namun keegoisanku masih berjalan, padahal aku tahu, ini hanya akan membuat aku dan dia menderita.
Kalau dipikir-pikir, sudah lama juga kita berkomunikasi hanya melalui dunia maya, berawal dari teman jejaring sosial, mulai "menganggap" keberadaan satu sama lain di dunia nyata setelah berinteraksi di jejaring sosial, mendekat, menjadi teman dekat, teman perang, dan kini... teman curhat...(?). Aku tidak yakin istilah ini tepat, sahabat? Ya, mungkin begitu. Yaa, apapun sebutannya, semua, 90% komunikasi kami, kami lakukan melalui dunia maya. Lalu apakah perasaan yang dirasakan ini juga "maya"? Aku tidak tahu.
Kadang berpikir, seandainya kami tidak berkomunikasi 3 bulan saja, apa yang akan terjadi? Mungkin 3 hari pertama stress, 1 minggu pertama galau luar biasa, ahh... rasanya tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi. Dan singkat cerita, mungkin awal-awal akan menderita luar biasa. NAMUN, apabila komunikasi ini bisa tidak dilakukan selama setidaknya 3 bulan... Apakah perasaan kami satu sama lain akan hilang?
Apakah dia akan bosan?
Apakah dia akan jenuh?
Apakah dia akan capek?
Apakah dia akan segera menemukan yang lain?
Apakah dia justru tidak akan memikirkannya sama sekali?
Mungkin saya kepedean, tapi rasanya tidak. :p
DAN, andaikata setelah 3 bulan tidak ada komunikasi, perasaan kami bisa menjadi netral, dan seandainya 3 bulan kemudian kami bertemu lagi, apakah kami akan kembali terjebak dalam lingkaran setan???
Aku tidak mengerti
Aku tidak mengerti, sejak kapan keberadaanmu begitu besar bagiku?
Aku telah kehilangan kontrol, padahal selama ini aku tidak pernah kehilangan kontrol atas perasaanku. Tidak pernah membiarkan hubungan yang tadinya hanya sekedar teman berubah. Tidak pernah sebelumnya aku menyukai seseorang, bukan karena aku memang suka, tapi karena kedekatan hubungan dan interaksi!! Tidak pernah sebelumnya, aku melewati batas dengan orang yang dari awal hanya kuanggap teman. Tidak pernah!! Kamu istimewa... Sayang, ini menyakitkan.
2012年3月5日月曜日
Mencari Yang Terbaik
Apa itu mencari yang terbaik?
Jika dalam konteks mencari pasangan hidup, ada yang mendefinisikannya sebagai mencari pasangan hidup yang matang kepribadian dan/atau finansialnya. Ada juga yang mendefinisikannya sebagai mencari pasangan yang dapat membuat hati tergila-gila. Ada juga yang mencari dari tingkat pendidikannya, dengan alasan kedewasaan atau investasi masa depan. Intinya ada yang mencari berdasarkan fisik, material, pendidikan atau spiritual.
Dalam konteks fisik, ada yang mencari dari segi ketampanan, atau kekar tidaknya badan pasangan, atau mungkin tinggi badannya. Ini masalah selera saja. Kalau ditanya bagaimana selera saya? Tentu saya suka yang tinggi, kulit putih, wajah cute dan badannya cukup sterk. Namun seringkali, rasa "suka" ini lebih sering berakhir dengan kekaguman terhadap fisiknya saja, karena tentu faktor karakter menurut saya paling berpengaruh dalam membuat orang jatuh cinta sungguhan.
Dalam konteks finansial, siapa sih, yang tidak suka kalau punya pasangan hidup yang mapan? Sekali lagi, menurut saya ini hanya nilai tambah, kekayaan seseorang tidak dapat menjamin kebahagiaan hidup pasangannya. Ya, dengan memiliki pasangan yang kaya dan apalagi kalau royal terhadap kita, tentu kita bisa kebanjiran hadiah, dan bisa memuaskan apa yang kita inginkan tanpa perlu susah payah. Ini memang nilai plus, dan jika dipikirkan sebagai logika memang sebaiknya tidak diabaikan, namun siapa sih, yang dapat mengontrol hati seseorang? Mengatur dengan siapa akan jatuh cinta? Tidak ada. Namun keputusan akhir tetap ada pada yang menjalaninya.
Untuk pendidikan, ada yang beranggapan, pendidikan tinggi menjamin seseorang untuk sukses, pendidikan tinggi menjamin seseorang untuk berpikir dewasa. Namun menurut saya pendidikan bukan jaminan seseorang akan sukses, bukan jaminan bahwa dia mampu berpikir dewasa. Kesuksesan sekali lagi adalah dampak dari faktor passion dan kreativitas seseorang dalam melihat peluang, menuangkannya dalam bentuk konkrit, dan keberanian dalam mengambil atau membuat kesempatan. Demikian pun dengan kedewasaan, ini ditentukan dari pribadi masing-masing, apakah dia mau mengamati sekitar dan mengambil pelajaran dari yang terjadi di sekitar atau pada dirinya atau tidak. Banyak yang sudah mengalami berbagai macam hal, namun tidak kunjung dewasa dan lagi-lagi terjebak dalam lubang yang sama, dan tidak menyadari dimana kesalahannya. Dan saya rasa tidak banyak orang yang mau mengamati segala segi kehidupan yang terjadi di sekitarnya, dan mengambilnya sebagai pengalaman pribadi, dan diterapkan dalam kehidupannya. Menurut saya, ini karena manusia semakin egois dan hanya memikirkan kehidupannya sendiri.
Dalam konteks spiritual, menurut saya ada 2 macam, spiritual secara keagamaan dan secara perasaan. Untuk secara perasaan, banyak orang yang mengorbankan harta, kehidupan, keluarga bahkan agamanya demi hidup dengan orang yang dicintainya. Cinta itu gila, cinta itu buta, menurut saya. Ini luar biasa, karena orang itu berani mengambil keputusan, bahkan mempertaruhkan kehidupan after-life nya demi bisa bersama dengan yang dicintainya. Saya disini tidak berbicara mengenai ada agama yang benar dan salah. Yang mungkin ingin saya share sedikit disini dalam buah pikiran saya. Bagi saya, agama adalah keyakinan, pedoman dalam menjalani hidup.
Sering saya tergoda untuk melanggar pedoman saya sendiri, namun setiap kali saya hampir melintasi pembatas tersebut, rasanya Yang Di Atas selalu mengingatkan saya, dan membukakan mata saya lebar-lebar hingga tersadar, this is not my path.
Pada kebalikannya, ada juga yang mengorbankan segalanya, termasuk perasaannya, demi hidup bersama dengan orang yang dianggap sebagai "tokoh agama", atau dianggap mapan dalam beragama. Faktor ini memang penting, tapi saya tidak ingin dibutakan oleh faktor ini.
Overall, yang selalu saya cari, adalah orang yang memiliki keyakinan kuat terhadap keyakinan yang dipegangnya, karena saya sendiri tidak akan mengalah demi pasangan saya, dan saya juga tidak terlalu suka ada yang "menjual" keyakinannya demi pasangan. Karena berarti keyakinannya itu hanya label, barcode yang bisa dilepas ketika pindah toko. Dan setelah itu, adalah kepribadian dan sikap, terakhir baru fisik. Oh ya, finansial sebagai nilai plus, hahahahaaaa.....
Meski idealnya seperti itu, terkadang unsur perasaan bisa sangat mendominasi dan menyingkirkan faktor lain yang seharusnya jauh lebih utama. Dan saya menyadari entah bagaimana, semakin dewasa, perasaan menyukai itu menjadi semakin serius dan membutakan. Mungkin karena saya berada dalam usia matang, sehingga saya semakin tidak bisa setengah-setengah ketika menyukai seseorang, dan itu menyiksa! Kenapa? Karena unsur yang paling utama, yang saya jadikan pedoman, tidak terpenuhi. Saya tidak memasukkan keyakinan saya dalam daftar gadai untuk bisa mendapatkan pasangan. Kalau ditanya apa yang saya masukkan dalam daftar gadai : fisik dan financial. Walaupun agak berat, tapi bagi saya selama faktor nomor 1 dan 2 sudah terpenuhi, itu cukup bisa membahagiakan.
Burung-burung di langit, tanpa menabur dan menuai, Tuhan beri makan, bunga bakung di ladang yang hidup hanya sebentar, Tuhan dandani dengan megah, apalagi anak dan hamba yang percaya kepada-Nya.
"Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? ". (Matius 6 : 25)
Entah kenapa, tiba-tiba saya merasa tidak layak untuk menulis artikel ini.
Yah, saya hanya sekedar share pemikiran idealisme saya, semoga saya tetap dapat berpegang dalam pedoman ini, tidak menukarnya dengan apapun.
2012年3月1日木曜日
Kirai....
Aku benci...
Aku ingin kamu sepenuhnya perhatian pada dia, atau sepenuhnya padaku. Aku benci perhatianmu yang setengah-setengah, itu membuatku merasa seperti ban cadangan, and I hate it. Tapi sebagai teman, sebagai sahabat, aku hanya bisa bersikap menenangkan emosimu, dan membuatmu berpikir positif, hanya itu, dan itu membuatku sakit.
Aku tahu kita tidak ada hubungan apa-apa, we're just friends! That's all i want it to be after all. Karena pada akhirnya, kamu bukan untukku, dan aku pun bukan untukmu. I just know it.
Sudah berapa kali juga aku berpikir untuk menjauh darimu, membuat jarak, menjadi hanya sekedar teman biasa, bukan lagi sahabat berbagi rasa senang, sedih ataupun candaan, atau bahkan menjadi orang asing! Tapi aku belum bisa, tidak... aku belum mau, aku masih ingin memiliki tempat bersandar, orang yang bisa mensupport ku secara emosional.
Membaca keluhanmu kemarin, bertambah lagi satu alasan yang kubuat, untuk belum beranjak dari posisi yang berduri ini. Aku masih ingin mensupportmu, membuatmu kuat, aku takut kamu hancur dan lelah, tapi setidaknya, aku bisa berasumsi, bahwa yang menderita karena rasa ini hanya aku, itu lebih baik, it's better for him. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku bisa menghadapi semuanya ini, karena aku tidak sendirian. Tuhan yang selalu menjagaku, dan menemaniku setiap waktu, Dia yang akan menguatkanku menghadapi dan membuat keputusan atas segalanya.
Aku ingin kamu sepenuhnya perhatian pada dia, atau sepenuhnya padaku. Aku benci perhatianmu yang setengah-setengah, itu membuatku merasa seperti ban cadangan, and I hate it. Tapi sebagai teman, sebagai sahabat, aku hanya bisa bersikap menenangkan emosimu, dan membuatmu berpikir positif, hanya itu, dan itu membuatku sakit.
Aku tahu kita tidak ada hubungan apa-apa, we're just friends! That's all i want it to be after all. Karena pada akhirnya, kamu bukan untukku, dan aku pun bukan untukmu. I just know it.
Sudah berapa kali juga aku berpikir untuk menjauh darimu, membuat jarak, menjadi hanya sekedar teman biasa, bukan lagi sahabat berbagi rasa senang, sedih ataupun candaan, atau bahkan menjadi orang asing! Tapi aku belum bisa, tidak... aku belum mau, aku masih ingin memiliki tempat bersandar, orang yang bisa mensupport ku secara emosional.
Membaca keluhanmu kemarin, bertambah lagi satu alasan yang kubuat, untuk belum beranjak dari posisi yang berduri ini. Aku masih ingin mensupportmu, membuatmu kuat, aku takut kamu hancur dan lelah, tapi setidaknya, aku bisa berasumsi, bahwa yang menderita karena rasa ini hanya aku, itu lebih baik, it's better for him. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku bisa menghadapi semuanya ini, karena aku tidak sendirian. Tuhan yang selalu menjagaku, dan menemaniku setiap waktu, Dia yang akan menguatkanku menghadapi dan membuat keputusan atas segalanya.
登録:
コメント (Atom)






