Welcome to my world! My thoughts, feeling and everything. I pour my thought and heart in this. This is my diary.
2012年3月5日月曜日
Mencari Yang Terbaik
Apa itu mencari yang terbaik?
Jika dalam konteks mencari pasangan hidup, ada yang mendefinisikannya sebagai mencari pasangan hidup yang matang kepribadian dan/atau finansialnya. Ada juga yang mendefinisikannya sebagai mencari pasangan yang dapat membuat hati tergila-gila. Ada juga yang mencari dari tingkat pendidikannya, dengan alasan kedewasaan atau investasi masa depan. Intinya ada yang mencari berdasarkan fisik, material, pendidikan atau spiritual.
Dalam konteks fisik, ada yang mencari dari segi ketampanan, atau kekar tidaknya badan pasangan, atau mungkin tinggi badannya. Ini masalah selera saja. Kalau ditanya bagaimana selera saya? Tentu saya suka yang tinggi, kulit putih, wajah cute dan badannya cukup sterk. Namun seringkali, rasa "suka" ini lebih sering berakhir dengan kekaguman terhadap fisiknya saja, karena tentu faktor karakter menurut saya paling berpengaruh dalam membuat orang jatuh cinta sungguhan.
Dalam konteks finansial, siapa sih, yang tidak suka kalau punya pasangan hidup yang mapan? Sekali lagi, menurut saya ini hanya nilai tambah, kekayaan seseorang tidak dapat menjamin kebahagiaan hidup pasangannya. Ya, dengan memiliki pasangan yang kaya dan apalagi kalau royal terhadap kita, tentu kita bisa kebanjiran hadiah, dan bisa memuaskan apa yang kita inginkan tanpa perlu susah payah. Ini memang nilai plus, dan jika dipikirkan sebagai logika memang sebaiknya tidak diabaikan, namun siapa sih, yang dapat mengontrol hati seseorang? Mengatur dengan siapa akan jatuh cinta? Tidak ada. Namun keputusan akhir tetap ada pada yang menjalaninya.
Untuk pendidikan, ada yang beranggapan, pendidikan tinggi menjamin seseorang untuk sukses, pendidikan tinggi menjamin seseorang untuk berpikir dewasa. Namun menurut saya pendidikan bukan jaminan seseorang akan sukses, bukan jaminan bahwa dia mampu berpikir dewasa. Kesuksesan sekali lagi adalah dampak dari faktor passion dan kreativitas seseorang dalam melihat peluang, menuangkannya dalam bentuk konkrit, dan keberanian dalam mengambil atau membuat kesempatan. Demikian pun dengan kedewasaan, ini ditentukan dari pribadi masing-masing, apakah dia mau mengamati sekitar dan mengambil pelajaran dari yang terjadi di sekitar atau pada dirinya atau tidak. Banyak yang sudah mengalami berbagai macam hal, namun tidak kunjung dewasa dan lagi-lagi terjebak dalam lubang yang sama, dan tidak menyadari dimana kesalahannya. Dan saya rasa tidak banyak orang yang mau mengamati segala segi kehidupan yang terjadi di sekitarnya, dan mengambilnya sebagai pengalaman pribadi, dan diterapkan dalam kehidupannya. Menurut saya, ini karena manusia semakin egois dan hanya memikirkan kehidupannya sendiri.
Dalam konteks spiritual, menurut saya ada 2 macam, spiritual secara keagamaan dan secara perasaan. Untuk secara perasaan, banyak orang yang mengorbankan harta, kehidupan, keluarga bahkan agamanya demi hidup dengan orang yang dicintainya. Cinta itu gila, cinta itu buta, menurut saya. Ini luar biasa, karena orang itu berani mengambil keputusan, bahkan mempertaruhkan kehidupan after-life nya demi bisa bersama dengan yang dicintainya. Saya disini tidak berbicara mengenai ada agama yang benar dan salah. Yang mungkin ingin saya share sedikit disini dalam buah pikiran saya. Bagi saya, agama adalah keyakinan, pedoman dalam menjalani hidup.
Sering saya tergoda untuk melanggar pedoman saya sendiri, namun setiap kali saya hampir melintasi pembatas tersebut, rasanya Yang Di Atas selalu mengingatkan saya, dan membukakan mata saya lebar-lebar hingga tersadar, this is not my path.
Pada kebalikannya, ada juga yang mengorbankan segalanya, termasuk perasaannya, demi hidup bersama dengan orang yang dianggap sebagai "tokoh agama", atau dianggap mapan dalam beragama. Faktor ini memang penting, tapi saya tidak ingin dibutakan oleh faktor ini.
Overall, yang selalu saya cari, adalah orang yang memiliki keyakinan kuat terhadap keyakinan yang dipegangnya, karena saya sendiri tidak akan mengalah demi pasangan saya, dan saya juga tidak terlalu suka ada yang "menjual" keyakinannya demi pasangan. Karena berarti keyakinannya itu hanya label, barcode yang bisa dilepas ketika pindah toko. Dan setelah itu, adalah kepribadian dan sikap, terakhir baru fisik. Oh ya, finansial sebagai nilai plus, hahahahaaaa.....
Meski idealnya seperti itu, terkadang unsur perasaan bisa sangat mendominasi dan menyingkirkan faktor lain yang seharusnya jauh lebih utama. Dan saya menyadari entah bagaimana, semakin dewasa, perasaan menyukai itu menjadi semakin serius dan membutakan. Mungkin karena saya berada dalam usia matang, sehingga saya semakin tidak bisa setengah-setengah ketika menyukai seseorang, dan itu menyiksa! Kenapa? Karena unsur yang paling utama, yang saya jadikan pedoman, tidak terpenuhi. Saya tidak memasukkan keyakinan saya dalam daftar gadai untuk bisa mendapatkan pasangan. Kalau ditanya apa yang saya masukkan dalam daftar gadai : fisik dan financial. Walaupun agak berat, tapi bagi saya selama faktor nomor 1 dan 2 sudah terpenuhi, itu cukup bisa membahagiakan.
Burung-burung di langit, tanpa menabur dan menuai, Tuhan beri makan, bunga bakung di ladang yang hidup hanya sebentar, Tuhan dandani dengan megah, apalagi anak dan hamba yang percaya kepada-Nya.
"Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? ". (Matius 6 : 25)
Entah kenapa, tiba-tiba saya merasa tidak layak untuk menulis artikel ini.
Yah, saya hanya sekedar share pemikiran idealisme saya, semoga saya tetap dapat berpegang dalam pedoman ini, tidak menukarnya dengan apapun.
登録:
コメントの投稿 (Atom)

0 件のコメント:
コメントを投稿