I hate it
Aku benci ketakutanku
Aku benci ketidaktegasan diriku dalam memutuskan
Aku tahu, aku menyadari sepenuhnya apa yang terbaik bagi diriku dan dia. Aku tahu, aku mengerti, tapi aku menunda, memperpanjang, karena aku belum mau kehilangan dia. Aku masih ingin berinteraksi dengan dia, merasa diperhatikan olehnya, merasa spesial di matanya. Aku egois.
Pada saat mendengar dia mengatakan "mau jadi pacarku?", aku senang sekali, tapi juga galau. Ingin menjawab ya, namun tidak bisa. Akhirnya aku mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain, karena aku belum ingin menjawabnya, kalau aku menjawabnya, aku harus menjawab "tidak", dan aku takut kehilangan dia. Kadang aku berdalih, "aku ingin berbicara langsung dengan dia, empat mata untuk menjelaskan semuanya", tapi kusadari, ini hanyalah alasan yang kubuat untuk memperpanjang, menunda waktu.
Setelah hari itu, aku sadari, intensitas inisiatif dia untuk menghubungiku... tidak ada? Benarkah tidak ada? Aku bertanya pada diri sendiri... Aku tidak tahu. Sempat terpikir untuk membiarkan dia dahulu, sampai benar-benar tenang, berupaya untuk tidak menghubunginya. Aku bersabar sampai sore... sampai malam.... aku tidak bisa, dan akhirnya aku malah menelponnya. Kudengar suaranya yang kurindukan, ingin bertemu... tapi aku takut, bila bertemu, akan semakin suka... Sempat khawatir, sempat takut dia akan menarik diri dari percakapan, dengan membalas seadanya dan agak dingin, tapi tidak, semuanya seperti normal, hanya saja, dia tidak lagi berinisiatif untuk menghubungiku.
Kupikir, biarlah... Mungkin dengan cara seperti ini, pelan-pelan dia akan dapat semakin melupakanku, dapat move on dengan caranya sendiri. Dan saat itu, aku akan tersenyum padanya sebagai seorang sahabat.

0 件のコメント:
コメントを投稿