3 bulan berlalu
datanglah sang sembilan
Belumlah ia genap berlalu
Kembali sang tiga menndahului
Mengikuti di belakangnya... dua buah tiga...
tiga - sembilan - tiga - tiga
semua terasa sia-sia
Welcome to my world! My thoughts, feeling and everything. I pour my thought and heart in this. This is my diary.
2012年9月14日金曜日
2012年9月11日火曜日
Kemarau dan Hujan
Aku pikir...
Kemarau tidak akan ada di tengah Hujan
dan Hujan tidak akan ada di tengah Kemarau
Aku pikir..
Tangis akan tenggelam di tengah Hujan
Dan peluh akan membanjir di tengah Kemarau
Tapi tidak
Pikir tidaklah sama dengan kenyataan
Fakta tidaklah sama dengan harapan
Menanti Kemarau di tengah Hujan
dan Hujan di tengah Kemarau
Mengharapkan hal yang dipikir mustahil
Penantian yang diharapkan tidak akan menjadi kosong
Kemarau tidak akan ada di tengah Hujan
dan Hujan tidak akan ada di tengah Kemarau
Aku pikir..
Tangis akan tenggelam di tengah Hujan
Dan peluh akan membanjir di tengah Kemarau
Tapi tidak
Pikir tidaklah sama dengan kenyataan
Fakta tidaklah sama dengan harapan
Menanti Kemarau di tengah Hujan
dan Hujan di tengah Kemarau
Mengharapkan hal yang dipikir mustahil
Penantian yang diharapkan tidak akan menjadi kosong
2012年4月24日火曜日
Mimpi vs Nyata
Kalau berpikir cengeng:
Every night I cried,
whenever I remembered you I cried,
whenever I got a phone call for a long conversation
I cried for remembering moments I shared with you by phone.
Tapi...
Dunia ini nyata..
Mimpi harus berakhir
Atau..
Kita tidak akan bisa melanjutkan kehidupan kita
Life must go on...
Jadilah kuat
Jadilah tegar
Bayang-bayang mimpi ini pasti akan berlalu
Every night I cried,
whenever I remembered you I cried,
whenever I got a phone call for a long conversation
I cried for remembering moments I shared with you by phone.
Tapi...
Dunia ini nyata..
Mimpi harus berakhir
Atau..
Kita tidak akan bisa melanjutkan kehidupan kita
Life must go on...
Jadilah kuat
Jadilah tegar
Bayang-bayang mimpi ini pasti akan berlalu
2012年4月23日月曜日
Maaf dan Terima Kasih
Maaf
dan
Terima kasih...
Maaf sudah menyukaimu
Maaf sudah masuk ke kehidupanmu
Maaf sudah mengacaukan perasaanmu
Maaf tidak bisa menyampaikan selamat tinggal dengan baik
Terima kasih sudah hadir di kehidupanku
Terima kasih atas kebahagiaan yang kuterima
Terima kasih atas perhatianmu selama ini
Sampai jumpa lagi, di lain kesempatan
Sebagai...
Teman...
dan
Terima kasih...
Maaf sudah menyukaimu
Maaf sudah masuk ke kehidupanmu
Maaf sudah mengacaukan perasaanmu
Maaf tidak bisa menyampaikan selamat tinggal dengan baik
Terima kasih sudah hadir di kehidupanku
Terima kasih atas kebahagiaan yang kuterima
Terima kasih atas perhatianmu selama ini
Sampai jumpa lagi, di lain kesempatan
Sebagai...
Teman...
2012年4月16日月曜日
Farewell
Dear Someone
Aku ingin kamu tahu
Kalau aku
Sangat menikmati saat bersamamu
Dear Someone
Maaf aku tidak tahu
Kalau kamu
Tersiksa selama bersamaku
Dear Someone
Maafkan aku
Kalau aku
Bahagia sementara kamu tersiksa
Dear Someone
Terima kasih pernah hadir di hidupku
Sungguh, aku sayang kamu...
2012年4月13日金曜日
"Mantra"
It’s Okay…
It’s Okay…
Everything’s gonna be alright…
No need to be panicked
Everything’s gonna be alright…
You can do it, girl
It’s Okay…
It’s Okay…
Be tough!!
Pernah merasa panik? atau terdesak?
Aku termasuk orang yang gampang panik dan paranoid. Pikiranku gampang kalut. Seperti kata seseorang yang kukira tidak mengenalku, tapi bisa menilaiku : "saya tahu, kamu orangnya sebenarnya punya emosi yang tinggi, tapi karena kamu pintar, kamu kendalikan itu". He's just damn right!!
Entah sejak kapan dan bagaimana mulanya, aku menggunakan kata-kata di atas untuk menguatkan diriku sendiri. Karena di saat paranoid atau kalutku itu kambuh, terutama untuk hal yang jika dipikir secara logika, hal yang kecil, aku jadi merasa lebay, and I hate it! Makanya aku memerangi diriku sendiri dalam hal ini. Meski sudah cukup lama kuterapkan, aku belum bisa bilang aku sembuh dari penyakit kalut dan paranoid ini, tapi setidaknya pengendalian ekspresi dan emosiku sudah jauh lebih baik.
Saya pikir tiap orang mungkin punya "mantra" nya masing-masing untuk mengendalikan emosinya. Seperti seorang temanku yang menggunakan mantra : "All iz well... all iz well..." yang dia dapatkan dari sebuah film favoritnya, dan kebetulan aku juga suka film itu setelah coba menontonnya.
Yah... mantra ini memang tidak akan bisa merubah apa yang sudah terjadi. Namun, bisa mempengaruhi langkah yang diambil dari masalah yang dihadapi. Apapun itu, keputusan dari hasil berpikir secara logis dan jernih biasanya akan lebih baik daripada keputusan yang dihasilkan dari pikiran yang sedang kalut.
Dan, percaya atau tidak, penggunaan "mantra" seperti ini cukup manjur untuk meng-hypno otak supaya lebih tenang. Walau mungkin untuk dalam keadaan yang luar biasa serius, bisa saja kurang manjur. *LOL*
Hanya sekedar share... Hehehe.. :D
2012年4月11日水曜日
Sang Waktu
TIK TOK...
Jam berdetak
TIK TOK...
Waktu pun berlalu
Tanpa kenal ampun
Tanpa kenal siapa dan apa
TIK TOK...
Terror itu kembali menghantui
Sang maha yang tak kenal belas kasihan
Ia berlalu
Meninggalkan mereka yang masih terpaku
pada tuntutan masa lalu
dan tak bergerak maju
TIK TOK...
Ia menggemakan suaranya
Suara peringatan bahwa "aku tidak pernah mundur"
Waktu, sang penguasa kehidupan
Waktu, sang penakluk mereka yang congkak
Waktu, sang pemenang dari semua situasi
Waktu, sang pemutar roda kehidupan
Waktu, sang hakim dari segala tindakan,
yang mereka sebut dengan nama lain, Karma
Jam berdetak
TIK TOK...
Waktu pun berlalu
Tanpa kenal ampun
Tanpa kenal siapa dan apa
TIK TOK...
Terror itu kembali menghantui
Sang maha yang tak kenal belas kasihan
Ia berlalu
Meninggalkan mereka yang masih terpaku
pada tuntutan masa lalu
dan tak bergerak maju
TIK TOK...
Ia menggemakan suaranya
Suara peringatan bahwa "aku tidak pernah mundur"
Waktu, sang penguasa kehidupan
Waktu, sang penakluk mereka yang congkak
Waktu, sang pemenang dari semua situasi
Waktu, sang pemutar roda kehidupan
Waktu, sang hakim dari segala tindakan,
yang mereka sebut dengan nama lain, Karma
2012年4月2日月曜日
Diri
Siapa kamu?
Tanya sang letih
Andai aku bisa membunuh pikiranku sendiri
perasaanku sendiri...
Ah, tidak...
Tidak boleh...
Aku akan kembali menjadi boneka
Lama aku di posisi ini
lagi... lagi... dan lagi...
Seperti komidi putar,
Aku berputar-putar di tempat yang sama
dengan putaran yang semakin kencang
dan menyakitkan...
Aku lelah...
Bolehkah aku mengeluh?
Aku bingung, bahkan dengan diriku sendiri
Kukira aku sudah mulai mengenal aku
Tapi, tidak...
Aku ternyata masih terlalu misterius
untuk kupahami sepenuhnya
Hai Aku, siapakah kamu?
Tanya sang letih
Andai aku bisa membunuh pikiranku sendiri
perasaanku sendiri...
Ah, tidak...
Tidak boleh...
Aku akan kembali menjadi boneka
Lama aku di posisi ini
lagi... lagi... dan lagi...
Seperti komidi putar,
Aku berputar-putar di tempat yang sama
dengan putaran yang semakin kencang
dan menyakitkan...
Aku lelah...
Bolehkah aku mengeluh?
Aku bingung, bahkan dengan diriku sendiri
Kukira aku sudah mulai mengenal aku
Tapi, tidak...
Aku ternyata masih terlalu misterius
untuk kupahami sepenuhnya
Hai Aku, siapakah kamu?
Perbedaan
Apa itu perbedaan?
Terkadang, manusia terlalu ribut dengan label, dengan visualisasi dari sesuatu, entah itu benda, hewan, tumbuhan, bahkan orang. Manusia seringkali terlalu ribut, memusingkan segala macam titel, fisik dan kemasan segala sesuatu. Menurut anda, berapa banyak pertikaian, pertengkaran, perselisihan yang timbul dari masalah visual ini?? Banyak! Dari skala kecil hingga besar, ada banyak sekali perselisihan yang timbul dari sesuatu yang dianggap "perbedaan" ini. Mungkin manusia banyak yang menganggur, banyak yang otaknya tidak dipakai, sehingga cenderung meributkan sesuatu yang menurut pandangan pribadi saya, bukanlah hal yang harus dipikirkan terlalu serius.
Mungkin, dalam beberapa hal, ini penting, tergantung sudut pandang apa yang diambil.
Aku... muak dengan apa yang disebut "perbedaan" ini. Menurut saya, bukankah sebaiknya memikirkan inti sejati dari sesuatu itu sendiri lebih penting dan bermanfaat daripada hanya visualnya saja? Bukankah lebih baik yang dipikirkan lebih kepada fungsi, manfaat, karakter dan kemampuannya? SOFT SKILL!!
Kalau ditanya, mungkin pada paragraf ini akan terdengar sedikit lebay. Tapi setidaknya, ini yang ada dalam sudut pandang saya. Bagi saya, karena saya mungkin tergolong "berbeda" secara fisik dengan lingkungan saya, dalam setiap periode, dari SD (dari yang saya ingat), selalu ada pengalaman dimana ada orang memandang atau memperlakukanku secara berbeda. Tapi karena saya memiliki teman-teman berharga yang mau menerima saya apa adanya, karena saya adalah saya, bukan karena saya itu apa, saya bisa mempertahankan pikiran positif saya, bahwa perlakuan semacam itu hanya dilakukan oleh orang itu, bukan oleh orang golongan itu! Sampai sekarang, saya selalu berusaha untuk tidak "mengeneralisasikan" orang-orang yang berinteraksi dengan saya. Saya menilai mereka satu per satu, secara individual. Sebagai pribadi yang satu sama lain berbeda dan istimewa. Namun semakin dewasa, manusia semakin "bertumbuh" dan menjadi seperti "sama".
Bukankah manusia bertumbuh itu supaya semakin dewasa...?
Apakah makna dari dewasa itu sendiri?
Sementara ini, aku mendapati maknanya sebagai kelihaian berbicara, kepandaian menjilat, dan kemampuan untuk beradaptasi (saya membacanya sebagai "bunglon") dengan berbagai situasi, dan kemampuan untuk menciptakan situasi yang sesuai dan sebisa mungkin menguntungkan bagi dirinya sendiri. Intinya egosentris namun dengan mengenakan baju "sosial". Namun dewasa juga berarti mampu menilai segala sesuatu secara objektif, bukan hanya subjektif saja, mampu melihat dari "kacamata" orang lain.
Jika dibalikan, memang anak kecil tidak bisa seperti itu, mereka lurus, polos dan apa adanya. Mungkin benar ini adalah makna dari dewasa itu sendiri, yaitu berpikir dan bertindak berbeda dengan anak-anak.
Lagi-lagi soal perbedaan.
Mungkin saya tidak bisa disebut dewasa, karena saya selalu mempertahankan pikiranku yang polos dan sebisa mungkin jujur. Walau dalam beberapa aspek, saya termasuk pembohong ulung, misalnya dalam menyembunyikan perasaan. Entah sejak kapan, saya terbiasa menipu diri saya sendiri dalam hal ini, walaupun belakangan ini mulai sulit untuk berbohong lagi. Kalau ditanya kenapa pikiran yang polos dipertahankan? Pikiran yang terlalu banyak mencurigai orang lain tidak akan membuat seseorang bahagia. Kalaupun seandainya akhirnya ditipu, biarlah menjadi pelajaran dengan mempelajari tanda-tanda yang didapat.
Maaf jika ada yang tidak nyaman dengan tulisan saya, hanya sedang menuangkan isi pikiran yang seperti benang kusut. ^_____^;
Terkadang, manusia terlalu ribut dengan label, dengan visualisasi dari sesuatu, entah itu benda, hewan, tumbuhan, bahkan orang. Manusia seringkali terlalu ribut, memusingkan segala macam titel, fisik dan kemasan segala sesuatu. Menurut anda, berapa banyak pertikaian, pertengkaran, perselisihan yang timbul dari masalah visual ini?? Banyak! Dari skala kecil hingga besar, ada banyak sekali perselisihan yang timbul dari sesuatu yang dianggap "perbedaan" ini. Mungkin manusia banyak yang menganggur, banyak yang otaknya tidak dipakai, sehingga cenderung meributkan sesuatu yang menurut pandangan pribadi saya, bukanlah hal yang harus dipikirkan terlalu serius.
Mungkin, dalam beberapa hal, ini penting, tergantung sudut pandang apa yang diambil.
Aku... muak dengan apa yang disebut "perbedaan" ini. Menurut saya, bukankah sebaiknya memikirkan inti sejati dari sesuatu itu sendiri lebih penting dan bermanfaat daripada hanya visualnya saja? Bukankah lebih baik yang dipikirkan lebih kepada fungsi, manfaat, karakter dan kemampuannya? SOFT SKILL!!
Kalau ditanya, mungkin pada paragraf ini akan terdengar sedikit lebay. Tapi setidaknya, ini yang ada dalam sudut pandang saya. Bagi saya, karena saya mungkin tergolong "berbeda" secara fisik dengan lingkungan saya, dalam setiap periode, dari SD (dari yang saya ingat), selalu ada pengalaman dimana ada orang memandang atau memperlakukanku secara berbeda. Tapi karena saya memiliki teman-teman berharga yang mau menerima saya apa adanya, karena saya adalah saya, bukan karena saya itu apa, saya bisa mempertahankan pikiran positif saya, bahwa perlakuan semacam itu hanya dilakukan oleh orang itu, bukan oleh orang golongan itu! Sampai sekarang, saya selalu berusaha untuk tidak "mengeneralisasikan" orang-orang yang berinteraksi dengan saya. Saya menilai mereka satu per satu, secara individual. Sebagai pribadi yang satu sama lain berbeda dan istimewa. Namun semakin dewasa, manusia semakin "bertumbuh" dan menjadi seperti "sama".
Bukankah manusia bertumbuh itu supaya semakin dewasa...?
Apakah makna dari dewasa itu sendiri?
Sementara ini, aku mendapati maknanya sebagai kelihaian berbicara, kepandaian menjilat, dan kemampuan untuk beradaptasi (saya membacanya sebagai "bunglon") dengan berbagai situasi, dan kemampuan untuk menciptakan situasi yang sesuai dan sebisa mungkin menguntungkan bagi dirinya sendiri. Intinya egosentris namun dengan mengenakan baju "sosial". Namun dewasa juga berarti mampu menilai segala sesuatu secara objektif, bukan hanya subjektif saja, mampu melihat dari "kacamata" orang lain.
Jika dibalikan, memang anak kecil tidak bisa seperti itu, mereka lurus, polos dan apa adanya. Mungkin benar ini adalah makna dari dewasa itu sendiri, yaitu berpikir dan bertindak berbeda dengan anak-anak.
Lagi-lagi soal perbedaan.
Mungkin saya tidak bisa disebut dewasa, karena saya selalu mempertahankan pikiranku yang polos dan sebisa mungkin jujur. Walau dalam beberapa aspek, saya termasuk pembohong ulung, misalnya dalam menyembunyikan perasaan. Entah sejak kapan, saya terbiasa menipu diri saya sendiri dalam hal ini, walaupun belakangan ini mulai sulit untuk berbohong lagi. Kalau ditanya kenapa pikiran yang polos dipertahankan? Pikiran yang terlalu banyak mencurigai orang lain tidak akan membuat seseorang bahagia. Kalaupun seandainya akhirnya ditipu, biarlah menjadi pelajaran dengan mempelajari tanda-tanda yang didapat.
Maaf jika ada yang tidak nyaman dengan tulisan saya, hanya sedang menuangkan isi pikiran yang seperti benang kusut. ^_____^;
Menguatkan Diri
Mulai gila...
Rasanya hari ini populasi pikiran di kepalaku tiba-tiba penuh. Padat!! Beragam hal kupikirkan, mulai dari kehidupanku sendiri, dia dan masalah pekerjaan, yang kini dihadapkan dengan tantangan baru! Memang hanya untuk 1 hari saja. Tapi entah kenapa, 1 hari ini akan menentukan langkahku ke depannya di hadapan para pembesar tempatku bekerja. Apakah aku sanggup? Apakah aku bisa? Benar-benar pesimis... Aku butuh dia... tapi, harus mulai melatih diriku untuk tidak terlalu tergantung lagi... Merasa semakin lemah, harus mulai menguatkan diri, tantangan yang ada harus mulai kuhadapi sendiri... lagi... Seperti yang biasanya kulakukan, walau rasanya belakangan sudah mulai lupa, bagaimana caraku bertahan selama ini.
Mulai keras lagi terhadap diri sendiri, berpikir sendiri, mengatasi sendiri...
ARGH....!!!!
Rasanya hari ini populasi pikiran di kepalaku tiba-tiba penuh. Padat!! Beragam hal kupikirkan, mulai dari kehidupanku sendiri, dia dan masalah pekerjaan, yang kini dihadapkan dengan tantangan baru! Memang hanya untuk 1 hari saja. Tapi entah kenapa, 1 hari ini akan menentukan langkahku ke depannya di hadapan para pembesar tempatku bekerja. Apakah aku sanggup? Apakah aku bisa? Benar-benar pesimis... Aku butuh dia... tapi, harus mulai melatih diriku untuk tidak terlalu tergantung lagi... Merasa semakin lemah, harus mulai menguatkan diri, tantangan yang ada harus mulai kuhadapi sendiri... lagi... Seperti yang biasanya kulakukan, walau rasanya belakangan sudah mulai lupa, bagaimana caraku bertahan selama ini.
Mulai keras lagi terhadap diri sendiri, berpikir sendiri, mengatasi sendiri...
ARGH....!!!!
2012年4月1日日曜日
Permainan
Tidak terkatakan
Tidak terucapkan
Tidak tersampaikan
Lidah ini kelu untuk berkata
Seolah bisu
Pikiran ini beku tuk berpikir
Seolah lumpuh
Mata ini seolah terkunci
Tak mampu untuk mengungkapkan
Tak mampu untuk memulai
Mengatakan apa yang ingin dikatakan
Mengapa begitu sulit
Padahal sederhana
Mengapa begitu sulit
Kutanya pada diriku
Pikirku
Hatiku...
Bagai karet yang ditarik ulur
Aku mempermainkan perasaanku
Dan dia...
Bagai mimpi yang tak nyata
Ku menempatkan diriku dan dia
Dalam kesenangan semu
Yang bahkan tak bisa kunikmati dengan sepenuh hati
Hatiku berontak
Pikiranku menjawab
Apa yang sedang kulakukan??
Tidak terucapkan
Tidak tersampaikan
Lidah ini kelu untuk berkata
Seolah bisu
Pikiran ini beku tuk berpikir
Seolah lumpuh
Mata ini seolah terkunci
Tak mampu untuk mengungkapkan
Tak mampu untuk memulai
Mengatakan apa yang ingin dikatakan
Mengapa begitu sulit
Padahal sederhana
Mengapa begitu sulit
Kutanya pada diriku
Pikirku
Hatiku...
Bagai karet yang ditarik ulur
Aku mempermainkan perasaanku
Dan dia...
Bagai mimpi yang tak nyata
Ku menempatkan diriku dan dia
Dalam kesenangan semu
Yang bahkan tak bisa kunikmati dengan sepenuh hati
Hatiku berontak
Pikiranku menjawab
Apa yang sedang kulakukan??
2012年3月30日金曜日
Unjuk Rasa
30 Maret 2012. Hari ini adalah hari (yang katanya) puncak kegiatan unjuk rasa di Jakarta untuk menolak kenaikan BBM. Bahkan yang saya dengar, sampai ada orang2 yang diangkut dari luar kota menggunakan truk untuk ikut "meramaikan" dan memperkuat pengaruh dari unjuk rasa hari ini.
Hmmmm..... memang ini berita yang kontroversial, ada yang menerima, dan yang menolak. Meski yang menolak ini memang terlihat lebih mencolok. Karena seberapa pun kenaikan BBM nya, meski hanya sedikit, tapi pengaruhnya pada semua harga barang. Entah saya dingin atau memang cuek, tapi saya pribadi tidak terlalu banyak memikirkan hal ini, naik silakan, kalo enggak ya syukur. Hahaaaa... Mungkin salah satu penyebabnya karena saya ada di antara dua orang yang saling beroposisi. Ayah saya oposisi terhadap kenaikan BBM, sedangkan teman dekat saya mendukung. Dan mereka berdua cukup rajin untuk update opini mereka pada saya. Jadilah saya posisi netral. Hahahaaa....
Kebetulan lokasi kost dan tempat kerja saya sangat berdekatan dengan pusat UNRAS ini, yaaa sedikit was-was. Tapi, saya sendiri punya pemikiran (belum jadi prinsip), ketakutan itu harus dihadapi. Pemikiran inilah yang menjadikan diri saya sekarang ini.
Well, bagi yang berdemo, apapun hasilnya, please don't let your anger come over your head. You'll regret it later, especially if you create a big mess and hurt people. *pray*
Hmmmm..... memang ini berita yang kontroversial, ada yang menerima, dan yang menolak. Meski yang menolak ini memang terlihat lebih mencolok. Karena seberapa pun kenaikan BBM nya, meski hanya sedikit, tapi pengaruhnya pada semua harga barang. Entah saya dingin atau memang cuek, tapi saya pribadi tidak terlalu banyak memikirkan hal ini, naik silakan, kalo enggak ya syukur. Hahaaaa... Mungkin salah satu penyebabnya karena saya ada di antara dua orang yang saling beroposisi. Ayah saya oposisi terhadap kenaikan BBM, sedangkan teman dekat saya mendukung. Dan mereka berdua cukup rajin untuk update opini mereka pada saya. Jadilah saya posisi netral. Hahahaaa....
Kebetulan lokasi kost dan tempat kerja saya sangat berdekatan dengan pusat UNRAS ini, yaaa sedikit was-was. Tapi, saya sendiri punya pemikiran (belum jadi prinsip), ketakutan itu harus dihadapi. Pemikiran inilah yang menjadikan diri saya sekarang ini.
Well, bagi yang berdemo, apapun hasilnya, please don't let your anger come over your head. You'll regret it later, especially if you create a big mess and hurt people. *pray*
2012年3月27日火曜日
Menipu Diri Sendiri
Halo hari, apa kabarmu?
Aku cerah dan baik-baik saja.
Halo pikiran, apa kabarmu?
Aku segar dan tidak ada yang mengganggu diriku!
Halo hati, apa kabarmu?
Aku sehat dan sangat enerjik!
Hari ini adalah hari yang luar biasa dengan kesegaran luar biasa, karena segalanya luar biasa!
Tidak lagi aku merindukannya
Tidak lagi aku menginginkannya
Tidak lagi aku menangis dalam hati karena dia
Aku sehat, aku segar, dan hari ini semua akan baik-baik saja!!
Aku sudah bangkit, aku sudah bebas dari perasaan ini!!
Selamat pagi, hari
Selamat pagi, Aku
Selamat pagi, cinta...
I no longer feel anything about you
Aku cerah dan baik-baik saja.
Halo pikiran, apa kabarmu?
Aku segar dan tidak ada yang mengganggu diriku!
Halo hati, apa kabarmu?
Aku sehat dan sangat enerjik!
Hari ini adalah hari yang luar biasa dengan kesegaran luar biasa, karena segalanya luar biasa!
Tidak lagi aku merindukannya
Tidak lagi aku menginginkannya
Tidak lagi aku menangis dalam hati karena dia
Aku sehat, aku segar, dan hari ini semua akan baik-baik saja!!
Aku sudah bangkit, aku sudah bebas dari perasaan ini!!
Selamat pagi, hari
Selamat pagi, Aku
Selamat pagi, cinta...
I no longer feel anything about you
Closing my eyes to my own thoughts and feeling.....
2012年3月20日火曜日
Trying To Move On
I hate it
Aku benci ketakutanku
Aku benci ketidaktegasan diriku dalam memutuskan
Aku tahu, aku menyadari sepenuhnya apa yang terbaik bagi diriku dan dia. Aku tahu, aku mengerti, tapi aku menunda, memperpanjang, karena aku belum mau kehilangan dia. Aku masih ingin berinteraksi dengan dia, merasa diperhatikan olehnya, merasa spesial di matanya. Aku egois.
Pada saat mendengar dia mengatakan "mau jadi pacarku?", aku senang sekali, tapi juga galau. Ingin menjawab ya, namun tidak bisa. Akhirnya aku mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain, karena aku belum ingin menjawabnya, kalau aku menjawabnya, aku harus menjawab "tidak", dan aku takut kehilangan dia. Kadang aku berdalih, "aku ingin berbicara langsung dengan dia, empat mata untuk menjelaskan semuanya", tapi kusadari, ini hanyalah alasan yang kubuat untuk memperpanjang, menunda waktu.
Setelah hari itu, aku sadari, intensitas inisiatif dia untuk menghubungiku... tidak ada? Benarkah tidak ada? Aku bertanya pada diri sendiri... Aku tidak tahu. Sempat terpikir untuk membiarkan dia dahulu, sampai benar-benar tenang, berupaya untuk tidak menghubunginya. Aku bersabar sampai sore... sampai malam.... aku tidak bisa, dan akhirnya aku malah menelponnya. Kudengar suaranya yang kurindukan, ingin bertemu... tapi aku takut, bila bertemu, akan semakin suka... Sempat khawatir, sempat takut dia akan menarik diri dari percakapan, dengan membalas seadanya dan agak dingin, tapi tidak, semuanya seperti normal, hanya saja, dia tidak lagi berinisiatif untuk menghubungiku.
Kupikir, biarlah... Mungkin dengan cara seperti ini, pelan-pelan dia akan dapat semakin melupakanku, dapat move on dengan caranya sendiri. Dan saat itu, aku akan tersenyum padanya sebagai seorang sahabat.
Aku benci ketakutanku
Aku benci ketidaktegasan diriku dalam memutuskan
Aku tahu, aku menyadari sepenuhnya apa yang terbaik bagi diriku dan dia. Aku tahu, aku mengerti, tapi aku menunda, memperpanjang, karena aku belum mau kehilangan dia. Aku masih ingin berinteraksi dengan dia, merasa diperhatikan olehnya, merasa spesial di matanya. Aku egois.
Pada saat mendengar dia mengatakan "mau jadi pacarku?", aku senang sekali, tapi juga galau. Ingin menjawab ya, namun tidak bisa. Akhirnya aku mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain, karena aku belum ingin menjawabnya, kalau aku menjawabnya, aku harus menjawab "tidak", dan aku takut kehilangan dia. Kadang aku berdalih, "aku ingin berbicara langsung dengan dia, empat mata untuk menjelaskan semuanya", tapi kusadari, ini hanyalah alasan yang kubuat untuk memperpanjang, menunda waktu.
Setelah hari itu, aku sadari, intensitas inisiatif dia untuk menghubungiku... tidak ada? Benarkah tidak ada? Aku bertanya pada diri sendiri... Aku tidak tahu. Sempat terpikir untuk membiarkan dia dahulu, sampai benar-benar tenang, berupaya untuk tidak menghubunginya. Aku bersabar sampai sore... sampai malam.... aku tidak bisa, dan akhirnya aku malah menelponnya. Kudengar suaranya yang kurindukan, ingin bertemu... tapi aku takut, bila bertemu, akan semakin suka... Sempat khawatir, sempat takut dia akan menarik diri dari percakapan, dengan membalas seadanya dan agak dingin, tapi tidak, semuanya seperti normal, hanya saja, dia tidak lagi berinisiatif untuk menghubungiku.
Kupikir, biarlah... Mungkin dengan cara seperti ini, pelan-pelan dia akan dapat semakin melupakanku, dapat move on dengan caranya sendiri. Dan saat itu, aku akan tersenyum padanya sebagai seorang sahabat.
2012年3月12日月曜日
Tujuan Hidup
Apakah tujuan hidupmu?
Pernahkah suatu waktu ada yang bertanya seperti ini padamu, atau menanyakan hal ini pada diri sendiri?
Biasanya aku tidak pernah terlalu memikirkan ini, karena tadinya kupikir tujuan hidupku sudah jelas dan sudah diatur oleh Yang Di Atas. Tapi hari ini aku berpikir, demi tujuan hidupku ini, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Tapi seringkali, apa yang HARUS dilakukan dengan apa yang DAPAT dilakukan itu tidak seiring. Rasanya sekarang ini aku mengerti apa yang harus kulakukan sekarang, namun rasanya sekarang ini saya belum dapat, belum mampu mengerjakannya dari hati, dengan inisiatif yang tinggi. Aku merasa benar-benar lemah, padahal baru beberapa waktu yang lalu semangatku dalam melakukan ini dibangkitkan oleh temanku, aku benar-benar berterima kasih padanya. Tapi kenapa hanya bertahan sebentar??? Aku kesal, kesal pada diri sendiri. Aku jengkel, kecewa, marah pada diri sendiri. Mengapa motivasi itu tidak bisa bertahan untuk seterusnya, apa sih, yang kurang? Apa sih sebenarnya yang menjadi tuntutan hati ini?!!
Rasanya kembali ke fase mimpi buruk yang sebelumnya kualami. Aku tidak mengerti. Aku tahu, aku harus menjalani jalan ini, tapi aku tidak mengerti bagaimana caranya agar aku bisa menjalaninya dengan sukacita, dengan sepenuh hati, dengan keikhlasan. Aku tidak mengerti!
Pernahkah suatu waktu ada yang bertanya seperti ini padamu, atau menanyakan hal ini pada diri sendiri?
Biasanya aku tidak pernah terlalu memikirkan ini, karena tadinya kupikir tujuan hidupku sudah jelas dan sudah diatur oleh Yang Di Atas. Tapi hari ini aku berpikir, demi tujuan hidupku ini, apa yang harus aku lakukan sekarang?
Tapi seringkali, apa yang HARUS dilakukan dengan apa yang DAPAT dilakukan itu tidak seiring. Rasanya sekarang ini aku mengerti apa yang harus kulakukan sekarang, namun rasanya sekarang ini saya belum dapat, belum mampu mengerjakannya dari hati, dengan inisiatif yang tinggi. Aku merasa benar-benar lemah, padahal baru beberapa waktu yang lalu semangatku dalam melakukan ini dibangkitkan oleh temanku, aku benar-benar berterima kasih padanya. Tapi kenapa hanya bertahan sebentar??? Aku kesal, kesal pada diri sendiri. Aku jengkel, kecewa, marah pada diri sendiri. Mengapa motivasi itu tidak bisa bertahan untuk seterusnya, apa sih, yang kurang? Apa sih sebenarnya yang menjadi tuntutan hati ini?!!
Rasanya kembali ke fase mimpi buruk yang sebelumnya kualami. Aku tidak mengerti. Aku tahu, aku harus menjalani jalan ini, tapi aku tidak mengerti bagaimana caranya agar aku bisa menjalaninya dengan sukacita, dengan sepenuh hati, dengan keikhlasan. Aku tidak mengerti!
2012年3月8日木曜日
Rindu
Ingin bertemu...
Ingin mengobrol...
Rasanya banyak sekali yang ingin dikatakan
Dilakukan bersama
Namun kau tak disini
Tak boleh disini
Entah bagaimana, rasanya hari ini sangat ingin in touch, berkomunikasi sama dia. Tapi mungkin karena tidak satu frekuensi atau bagaimana, dia sekarang ini sedang cape, entah karena kerjaan, atau karena apa, aku mencoba mengerti, aku mencoba sabar. Aku tidak boleh egois, tidak boleh memaksakan diri, karena semua orang punya keperluannya masing-masing. He's not dedicated to me, neither do I.
Kadang berpikir, rasanya langkah ini sudah terlalu jauh jika hanya sebagai teman, memang belum melewati batas, namun rasanya sedikit lagi saja, batas akan terlewati. Bagaimana baiknya, sebenarnya aku tahu, kepalaku paham, namun keegoisanku masih berjalan, padahal aku tahu, ini hanya akan membuat aku dan dia menderita.
Kalau dipikir-pikir, sudah lama juga kita berkomunikasi hanya melalui dunia maya, berawal dari teman jejaring sosial, mulai "menganggap" keberadaan satu sama lain di dunia nyata setelah berinteraksi di jejaring sosial, mendekat, menjadi teman dekat, teman perang, dan kini... teman curhat...(?). Aku tidak yakin istilah ini tepat, sahabat? Ya, mungkin begitu. Yaa, apapun sebutannya, semua, 90% komunikasi kami, kami lakukan melalui dunia maya. Lalu apakah perasaan yang dirasakan ini juga "maya"? Aku tidak tahu.
Kadang berpikir, seandainya kami tidak berkomunikasi 3 bulan saja, apa yang akan terjadi? Mungkin 3 hari pertama stress, 1 minggu pertama galau luar biasa, ahh... rasanya tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi. Dan singkat cerita, mungkin awal-awal akan menderita luar biasa. NAMUN, apabila komunikasi ini bisa tidak dilakukan selama setidaknya 3 bulan... Apakah perasaan kami satu sama lain akan hilang?
Apakah dia akan bosan?
Apakah dia akan jenuh?
Apakah dia akan capek?
Apakah dia akan segera menemukan yang lain?
Apakah dia justru tidak akan memikirkannya sama sekali?
Mungkin saya kepedean, tapi rasanya tidak. :p
DAN, andaikata setelah 3 bulan tidak ada komunikasi, perasaan kami bisa menjadi netral, dan seandainya 3 bulan kemudian kami bertemu lagi, apakah kami akan kembali terjebak dalam lingkaran setan???
Aku tidak mengerti
Aku tidak mengerti, sejak kapan keberadaanmu begitu besar bagiku?
Aku telah kehilangan kontrol, padahal selama ini aku tidak pernah kehilangan kontrol atas perasaanku. Tidak pernah membiarkan hubungan yang tadinya hanya sekedar teman berubah. Tidak pernah sebelumnya aku menyukai seseorang, bukan karena aku memang suka, tapi karena kedekatan hubungan dan interaksi!! Tidak pernah sebelumnya, aku melewati batas dengan orang yang dari awal hanya kuanggap teman. Tidak pernah!! Kamu istimewa... Sayang, ini menyakitkan.
Ingin mengobrol...
Rasanya banyak sekali yang ingin dikatakan
Dilakukan bersama
Namun kau tak disini
Tak boleh disini
Entah bagaimana, rasanya hari ini sangat ingin in touch, berkomunikasi sama dia. Tapi mungkin karena tidak satu frekuensi atau bagaimana, dia sekarang ini sedang cape, entah karena kerjaan, atau karena apa, aku mencoba mengerti, aku mencoba sabar. Aku tidak boleh egois, tidak boleh memaksakan diri, karena semua orang punya keperluannya masing-masing. He's not dedicated to me, neither do I.
Kadang berpikir, rasanya langkah ini sudah terlalu jauh jika hanya sebagai teman, memang belum melewati batas, namun rasanya sedikit lagi saja, batas akan terlewati. Bagaimana baiknya, sebenarnya aku tahu, kepalaku paham, namun keegoisanku masih berjalan, padahal aku tahu, ini hanya akan membuat aku dan dia menderita.
Kalau dipikir-pikir, sudah lama juga kita berkomunikasi hanya melalui dunia maya, berawal dari teman jejaring sosial, mulai "menganggap" keberadaan satu sama lain di dunia nyata setelah berinteraksi di jejaring sosial, mendekat, menjadi teman dekat, teman perang, dan kini... teman curhat...(?). Aku tidak yakin istilah ini tepat, sahabat? Ya, mungkin begitu. Yaa, apapun sebutannya, semua, 90% komunikasi kami, kami lakukan melalui dunia maya. Lalu apakah perasaan yang dirasakan ini juga "maya"? Aku tidak tahu.
Kadang berpikir, seandainya kami tidak berkomunikasi 3 bulan saja, apa yang akan terjadi? Mungkin 3 hari pertama stress, 1 minggu pertama galau luar biasa, ahh... rasanya tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi. Dan singkat cerita, mungkin awal-awal akan menderita luar biasa. NAMUN, apabila komunikasi ini bisa tidak dilakukan selama setidaknya 3 bulan... Apakah perasaan kami satu sama lain akan hilang?
Apakah dia akan bosan?
Apakah dia akan jenuh?
Apakah dia akan capek?
Apakah dia akan segera menemukan yang lain?
Apakah dia justru tidak akan memikirkannya sama sekali?
Mungkin saya kepedean, tapi rasanya tidak. :p
DAN, andaikata setelah 3 bulan tidak ada komunikasi, perasaan kami bisa menjadi netral, dan seandainya 3 bulan kemudian kami bertemu lagi, apakah kami akan kembali terjebak dalam lingkaran setan???
Aku tidak mengerti
Aku tidak mengerti, sejak kapan keberadaanmu begitu besar bagiku?
Aku telah kehilangan kontrol, padahal selama ini aku tidak pernah kehilangan kontrol atas perasaanku. Tidak pernah membiarkan hubungan yang tadinya hanya sekedar teman berubah. Tidak pernah sebelumnya aku menyukai seseorang, bukan karena aku memang suka, tapi karena kedekatan hubungan dan interaksi!! Tidak pernah sebelumnya, aku melewati batas dengan orang yang dari awal hanya kuanggap teman. Tidak pernah!! Kamu istimewa... Sayang, ini menyakitkan.
2012年3月5日月曜日
Mencari Yang Terbaik
Apa itu mencari yang terbaik?
Jika dalam konteks mencari pasangan hidup, ada yang mendefinisikannya sebagai mencari pasangan hidup yang matang kepribadian dan/atau finansialnya. Ada juga yang mendefinisikannya sebagai mencari pasangan yang dapat membuat hati tergila-gila. Ada juga yang mencari dari tingkat pendidikannya, dengan alasan kedewasaan atau investasi masa depan. Intinya ada yang mencari berdasarkan fisik, material, pendidikan atau spiritual.
Dalam konteks fisik, ada yang mencari dari segi ketampanan, atau kekar tidaknya badan pasangan, atau mungkin tinggi badannya. Ini masalah selera saja. Kalau ditanya bagaimana selera saya? Tentu saya suka yang tinggi, kulit putih, wajah cute dan badannya cukup sterk. Namun seringkali, rasa "suka" ini lebih sering berakhir dengan kekaguman terhadap fisiknya saja, karena tentu faktor karakter menurut saya paling berpengaruh dalam membuat orang jatuh cinta sungguhan.
Dalam konteks finansial, siapa sih, yang tidak suka kalau punya pasangan hidup yang mapan? Sekali lagi, menurut saya ini hanya nilai tambah, kekayaan seseorang tidak dapat menjamin kebahagiaan hidup pasangannya. Ya, dengan memiliki pasangan yang kaya dan apalagi kalau royal terhadap kita, tentu kita bisa kebanjiran hadiah, dan bisa memuaskan apa yang kita inginkan tanpa perlu susah payah. Ini memang nilai plus, dan jika dipikirkan sebagai logika memang sebaiknya tidak diabaikan, namun siapa sih, yang dapat mengontrol hati seseorang? Mengatur dengan siapa akan jatuh cinta? Tidak ada. Namun keputusan akhir tetap ada pada yang menjalaninya.
Untuk pendidikan, ada yang beranggapan, pendidikan tinggi menjamin seseorang untuk sukses, pendidikan tinggi menjamin seseorang untuk berpikir dewasa. Namun menurut saya pendidikan bukan jaminan seseorang akan sukses, bukan jaminan bahwa dia mampu berpikir dewasa. Kesuksesan sekali lagi adalah dampak dari faktor passion dan kreativitas seseorang dalam melihat peluang, menuangkannya dalam bentuk konkrit, dan keberanian dalam mengambil atau membuat kesempatan. Demikian pun dengan kedewasaan, ini ditentukan dari pribadi masing-masing, apakah dia mau mengamati sekitar dan mengambil pelajaran dari yang terjadi di sekitar atau pada dirinya atau tidak. Banyak yang sudah mengalami berbagai macam hal, namun tidak kunjung dewasa dan lagi-lagi terjebak dalam lubang yang sama, dan tidak menyadari dimana kesalahannya. Dan saya rasa tidak banyak orang yang mau mengamati segala segi kehidupan yang terjadi di sekitarnya, dan mengambilnya sebagai pengalaman pribadi, dan diterapkan dalam kehidupannya. Menurut saya, ini karena manusia semakin egois dan hanya memikirkan kehidupannya sendiri.
Dalam konteks spiritual, menurut saya ada 2 macam, spiritual secara keagamaan dan secara perasaan. Untuk secara perasaan, banyak orang yang mengorbankan harta, kehidupan, keluarga bahkan agamanya demi hidup dengan orang yang dicintainya. Cinta itu gila, cinta itu buta, menurut saya. Ini luar biasa, karena orang itu berani mengambil keputusan, bahkan mempertaruhkan kehidupan after-life nya demi bisa bersama dengan yang dicintainya. Saya disini tidak berbicara mengenai ada agama yang benar dan salah. Yang mungkin ingin saya share sedikit disini dalam buah pikiran saya. Bagi saya, agama adalah keyakinan, pedoman dalam menjalani hidup.
Sering saya tergoda untuk melanggar pedoman saya sendiri, namun setiap kali saya hampir melintasi pembatas tersebut, rasanya Yang Di Atas selalu mengingatkan saya, dan membukakan mata saya lebar-lebar hingga tersadar, this is not my path.
Pada kebalikannya, ada juga yang mengorbankan segalanya, termasuk perasaannya, demi hidup bersama dengan orang yang dianggap sebagai "tokoh agama", atau dianggap mapan dalam beragama. Faktor ini memang penting, tapi saya tidak ingin dibutakan oleh faktor ini.
Overall, yang selalu saya cari, adalah orang yang memiliki keyakinan kuat terhadap keyakinan yang dipegangnya, karena saya sendiri tidak akan mengalah demi pasangan saya, dan saya juga tidak terlalu suka ada yang "menjual" keyakinannya demi pasangan. Karena berarti keyakinannya itu hanya label, barcode yang bisa dilepas ketika pindah toko. Dan setelah itu, adalah kepribadian dan sikap, terakhir baru fisik. Oh ya, finansial sebagai nilai plus, hahahahaaaa.....
Meski idealnya seperti itu, terkadang unsur perasaan bisa sangat mendominasi dan menyingkirkan faktor lain yang seharusnya jauh lebih utama. Dan saya menyadari entah bagaimana, semakin dewasa, perasaan menyukai itu menjadi semakin serius dan membutakan. Mungkin karena saya berada dalam usia matang, sehingga saya semakin tidak bisa setengah-setengah ketika menyukai seseorang, dan itu menyiksa! Kenapa? Karena unsur yang paling utama, yang saya jadikan pedoman, tidak terpenuhi. Saya tidak memasukkan keyakinan saya dalam daftar gadai untuk bisa mendapatkan pasangan. Kalau ditanya apa yang saya masukkan dalam daftar gadai : fisik dan financial. Walaupun agak berat, tapi bagi saya selama faktor nomor 1 dan 2 sudah terpenuhi, itu cukup bisa membahagiakan.
Burung-burung di langit, tanpa menabur dan menuai, Tuhan beri makan, bunga bakung di ladang yang hidup hanya sebentar, Tuhan dandani dengan megah, apalagi anak dan hamba yang percaya kepada-Nya.
"Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? ". (Matius 6 : 25)
Entah kenapa, tiba-tiba saya merasa tidak layak untuk menulis artikel ini.
Yah, saya hanya sekedar share pemikiran idealisme saya, semoga saya tetap dapat berpegang dalam pedoman ini, tidak menukarnya dengan apapun.
2012年3月1日木曜日
Kirai....
Aku benci...
Aku ingin kamu sepenuhnya perhatian pada dia, atau sepenuhnya padaku. Aku benci perhatianmu yang setengah-setengah, itu membuatku merasa seperti ban cadangan, and I hate it. Tapi sebagai teman, sebagai sahabat, aku hanya bisa bersikap menenangkan emosimu, dan membuatmu berpikir positif, hanya itu, dan itu membuatku sakit.
Aku tahu kita tidak ada hubungan apa-apa, we're just friends! That's all i want it to be after all. Karena pada akhirnya, kamu bukan untukku, dan aku pun bukan untukmu. I just know it.
Sudah berapa kali juga aku berpikir untuk menjauh darimu, membuat jarak, menjadi hanya sekedar teman biasa, bukan lagi sahabat berbagi rasa senang, sedih ataupun candaan, atau bahkan menjadi orang asing! Tapi aku belum bisa, tidak... aku belum mau, aku masih ingin memiliki tempat bersandar, orang yang bisa mensupport ku secara emosional.
Membaca keluhanmu kemarin, bertambah lagi satu alasan yang kubuat, untuk belum beranjak dari posisi yang berduri ini. Aku masih ingin mensupportmu, membuatmu kuat, aku takut kamu hancur dan lelah, tapi setidaknya, aku bisa berasumsi, bahwa yang menderita karena rasa ini hanya aku, itu lebih baik, it's better for him. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku bisa menghadapi semuanya ini, karena aku tidak sendirian. Tuhan yang selalu menjagaku, dan menemaniku setiap waktu, Dia yang akan menguatkanku menghadapi dan membuat keputusan atas segalanya.
Aku ingin kamu sepenuhnya perhatian pada dia, atau sepenuhnya padaku. Aku benci perhatianmu yang setengah-setengah, itu membuatku merasa seperti ban cadangan, and I hate it. Tapi sebagai teman, sebagai sahabat, aku hanya bisa bersikap menenangkan emosimu, dan membuatmu berpikir positif, hanya itu, dan itu membuatku sakit.
Aku tahu kita tidak ada hubungan apa-apa, we're just friends! That's all i want it to be after all. Karena pada akhirnya, kamu bukan untukku, dan aku pun bukan untukmu. I just know it.
Sudah berapa kali juga aku berpikir untuk menjauh darimu, membuat jarak, menjadi hanya sekedar teman biasa, bukan lagi sahabat berbagi rasa senang, sedih ataupun candaan, atau bahkan menjadi orang asing! Tapi aku belum bisa, tidak... aku belum mau, aku masih ingin memiliki tempat bersandar, orang yang bisa mensupport ku secara emosional.
Membaca keluhanmu kemarin, bertambah lagi satu alasan yang kubuat, untuk belum beranjak dari posisi yang berduri ini. Aku masih ingin mensupportmu, membuatmu kuat, aku takut kamu hancur dan lelah, tapi setidaknya, aku bisa berasumsi, bahwa yang menderita karena rasa ini hanya aku, itu lebih baik, it's better for him. Aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja. Aku bisa menghadapi semuanya ini, karena aku tidak sendirian. Tuhan yang selalu menjagaku, dan menemaniku setiap waktu, Dia yang akan menguatkanku menghadapi dan membuat keputusan atas segalanya.
2012年2月29日水曜日
Sudah... Cukup!! (Bagian 2)
"Bagian 2"?? Yah, tadinya aku tidak berpikir untuk membuat bagian 2 dari cerita ini, tapi karena ada perubahan pikiran dan ingin kutuangkan, jadilah "bagian 2" dadakan ini... #maksa
hahahahaaaa.....
Kemarin malam
dan siang ini
Aku sukses bersikap agak dingin
mereply dengan seadanya.
Menjelang sore... ahhh,,, sudah tidak tahan pengen ngaco-ngacoan lagi sama dia. Ternyata belakangan ini aku memang memanjakan perasaanku, ya. Entah kenapa, kalau sama dia, rasanya aku bisa melepas stress ku, dan merasa lebih baik. Kembali berpikir, lalu kalau dia sudah tidak bisa kuganggu lagi, bagaimana?? Yah, soal itu untuk saat ini ingin kupikirkan nanti saja. Tapi yang jelas keputusan hatiku sudah bulat. Aku tidak ingin mengingkari itu.
Yah untuk sebentar lagi, let me enjoy the moments...
hahahahaaaa.....
Kemarin malam
dan siang ini
Aku sukses bersikap agak dingin
mereply dengan seadanya.
Menjelang sore... ahhh,,, sudah tidak tahan pengen ngaco-ngacoan lagi sama dia. Ternyata belakangan ini aku memang memanjakan perasaanku, ya. Entah kenapa, kalau sama dia, rasanya aku bisa melepas stress ku, dan merasa lebih baik. Kembali berpikir, lalu kalau dia sudah tidak bisa kuganggu lagi, bagaimana?? Yah, soal itu untuk saat ini ingin kupikirkan nanti saja. Tapi yang jelas keputusan hatiku sudah bulat. Aku tidak ingin mengingkari itu.
Yah untuk sebentar lagi, let me enjoy the moments...
Sudah... Cukup!!
Sudah... cukup!!
Kemarin malam sudah kutegaskan keputusan ini pada diriku. Aku memutuskan untuk tidak lagi membesar-besarkan perasaanku padanya, aku sudah memutuskan untuk mulai menjaga jarak dengannya. Aku sudah memutuskan, ternyata aku memang tidak bisa kalau hanya sekedar menjadi teman dengannya!
Mulai dari sejak minggu lalu, sejak aku berbicara keras padanya, beberapa hari setelah itu, rasionalitasku mulai bekerja, dan sepenuhnya menguasai pikiran dan otakku. Hatiku tidak bisa lagi terima keadaan yang dibatasi tidak boleh maju ini. Tidak bisa! Aku mungkin tidak akan sampai gila, karena kali ini, tidak ada peperangan batin, karena hati dan pikiranku sudah sejalan: ini harus dihentikan!
Mungkin untuk sementara waktu aku akan jadi autis, membekukan pikiranku, mengalihkan perhatianku pada hal-hal yang sebenarnya menurutku membosankan. Tapi itu lebih baik, lebih baik daripada memberi minyak pada sekam (?).
Biarlah semua terjadi menurut rencana-Nya, aku hanya bisa berusaha, melakukan apa yang kubisa.
Kemarin malam sudah kutegaskan keputusan ini pada diriku. Aku memutuskan untuk tidak lagi membesar-besarkan perasaanku padanya, aku sudah memutuskan untuk mulai menjaga jarak dengannya. Aku sudah memutuskan, ternyata aku memang tidak bisa kalau hanya sekedar menjadi teman dengannya!
Mulai dari sejak minggu lalu, sejak aku berbicara keras padanya, beberapa hari setelah itu, rasionalitasku mulai bekerja, dan sepenuhnya menguasai pikiran dan otakku. Hatiku tidak bisa lagi terima keadaan yang dibatasi tidak boleh maju ini. Tidak bisa! Aku mungkin tidak akan sampai gila, karena kali ini, tidak ada peperangan batin, karena hati dan pikiranku sudah sejalan: ini harus dihentikan!
Mungkin untuk sementara waktu aku akan jadi autis, membekukan pikiranku, mengalihkan perhatianku pada hal-hal yang sebenarnya menurutku membosankan. Tapi itu lebih baik, lebih baik daripada memberi minyak pada sekam (?).
Biarlah semua terjadi menurut rencana-Nya, aku hanya bisa berusaha, melakukan apa yang kubisa.
2012年2月25日土曜日
Sebuah Percakapan Dengan Diri Sendiri
Aitai...
Hontou ni aitain da.
Hisashiburi ni atta kara.
Maa tashika ni, sensenshuu aimashita ga,
Demo kono kokoro ga mou hontou ni aitaku natte shimatta.
Kimi...
Atashi no kimochi zenzen wakaranai desu ne
Donna ni suki na no wa
Zenzen wakaranai no desu ne
Iitain da
Tsutaetain da
Mou tamaranaku naru kara sa
Watashi ga itta koto wa tabun kizu tsuketa kamo shiremasen ga
sumimasen
kedo, shinai to, gentei wakaranaku naru kara sa
Gentei wa hoshii kedo
Yappa, kurushii desu ne
Aitain dakedo
Aitakute aitakute
Gaman shika nai...
Kimi...
Watashi no koto...
Aitai no ka?
Garis Pembatas
"Trrrrr....."
Perangkat genggamku bergetar, sedikit kaget dan entah kenapa dalam hati langsung berpikir "dari dia??", tapi bukan.
Yaaa... Aku baru saja menegur dia dengan cukup keras, tidak mungkin juga sepertinya dia akan menghubungiku secepat itu. Baru sebentar, tapi rasanya sudah kangen.
Aku tahu bukan aku prioritas yang ada di hatinya. Karena itu pulalah aku menunjukkan garis batas yang tegas padanya.
Sejujurnya saat dia menceritakan mengenai kekasihnya itu, membuatku merasa seperti menjadi selingkuhannya dia, dan ini membuatku merasa rendah dan hina. Yaaa.. Kami sebenarnya tidak ada hubungan apapun! But just like people say, there is no friendship between men and women.
Padahal awalnya aku sama sekali tidak terpikir, tidak bermaksud untuk sampai sedalam ini dengannya. Hanya karena merasa dia asik, bisa diajak ngaco, dan aku ternyata hanyut. Aku lupa kalau aku lemah dengan yang gigih dan tahan lama.
Aku lengah, dan kini sedang berusaha menata diri. Berharap bagian diri yang sudah terlanjur remuk, dapat beregenerasi kembali. Tinggal kini kupikirkan, apa yang akan aku mulai terapkan untuk lakukan mulai dari SEKARANG...?
Termenung... Dengan jawaban yang sebenarnya sudah berputar-putar di atas kepala. Apa aku tidak akan menghubunginya sama sekali? Apa aku tidak akan membalas pesan-pesannya sama sekali seandainya dia menghubungiku? Hey! Aku tidak sedang bermusuhan dengan dia! Kenapa harus seperti itu?? Pikirku.
Mungkin.. Setelah kugaris jelas batas ini, perlahan-lahan hubungan kami bisa kembali normal dalam arti yang sebenarnya tanpa ada yang harus menarik diri secara mencolok. Mungkin...
Perangkat genggamku bergetar, sedikit kaget dan entah kenapa dalam hati langsung berpikir "dari dia??", tapi bukan.
Yaaa... Aku baru saja menegur dia dengan cukup keras, tidak mungkin juga sepertinya dia akan menghubungiku secepat itu. Baru sebentar, tapi rasanya sudah kangen.
Aku tahu bukan aku prioritas yang ada di hatinya. Karena itu pulalah aku menunjukkan garis batas yang tegas padanya.
Sejujurnya saat dia menceritakan mengenai kekasihnya itu, membuatku merasa seperti menjadi selingkuhannya dia, dan ini membuatku merasa rendah dan hina. Yaaa.. Kami sebenarnya tidak ada hubungan apapun! But just like people say, there is no friendship between men and women.
Padahal awalnya aku sama sekali tidak terpikir, tidak bermaksud untuk sampai sedalam ini dengannya. Hanya karena merasa dia asik, bisa diajak ngaco, dan aku ternyata hanyut. Aku lupa kalau aku lemah dengan yang gigih dan tahan lama.
Aku lengah, dan kini sedang berusaha menata diri. Berharap bagian diri yang sudah terlanjur remuk, dapat beregenerasi kembali. Tinggal kini kupikirkan, apa yang akan aku mulai terapkan untuk lakukan mulai dari SEKARANG...?
Termenung... Dengan jawaban yang sebenarnya sudah berputar-putar di atas kepala. Apa aku tidak akan menghubunginya sama sekali? Apa aku tidak akan membalas pesan-pesannya sama sekali seandainya dia menghubungiku? Hey! Aku tidak sedang bermusuhan dengan dia! Kenapa harus seperti itu?? Pikirku.
Mungkin.. Setelah kugaris jelas batas ini, perlahan-lahan hubungan kami bisa kembali normal dalam arti yang sebenarnya tanpa ada yang harus menarik diri secara mencolok. Mungkin...
2012年2月24日金曜日
Pertempuran Hati
Lagi....
Lagi-lagi bola kaca itu jatuh
Jatuh berhamburan dari jendela hati
Lagi...
Lagi-lagi aku membuat kesalahan
Kesalahan yang menorehkan luka lebih dalam di hati
Lagi...
Lagi-lagi aku terlambat
Untuk menarik diri secara aman
Lagi...
Lagi-lagi aku harus mundur
Dengan prajurit yang penuh luka
Kekalahan ini sudah kulihat
Kekalahan ini sudah kuketahui
Sejak awal...
Entah mengapa
Entah apa
Aku tetap melangkah
Menuruti kata hati
Mengikuti ego diri
Dengan mengorbankan prajurit-prajurit
Bangga akan ketahananku menghadapi pertempuran yang kukira sejenis
Bangga akan rekorku mengalahkan musuhku dalam pertempuran yang kukira serupa
Kebanggaanku membuatku kalah
Kebanggaanku membuatku lengah
Kebanggaanku membuatku memandang enteng peperangan di hadapan mataku
Tetapi aku lupa
Dalam setiap pertempuran yang kuanggap kumenangkan
Dalam setiap pertempuran yang tahan kulalui
Selalu berakhir dengan luka yang tidak ringan
Sekarang belumlah terlambat
Sekarang belumlah final
Prajuritku masih tersisa walau sedikit
Meski harus terseok-seok
Meski harus memakan waktu lebih lama
Aku harus mundur
Apakah aku benar-benar bisa mundur?
Sedangkan piala kemenangan yang sudah kuketahui tak mungkin kudapatkan
Tampak begitu menggoda
Namun tak apa
Kini semuanya sudah jelas
Sebening kristal
Dengan berbekal pengetahuan ini
Aku bisa lebih mantap untuk mundur
Yang sebelumnya ragu kulakukan karena berbagai pikiran positif dan kemungkinanku
Terima kasih Tuhan, karena sudah dibukakan begitu jelas
Terima kasih Tuhan, karena sudah mendidikku begitu keras
Sehingga aku bisa menjadi diriku yang berprinsip
Dan tidak membiarkan diri diinjak-injak oleh orang lain.
Lagi-lagi bola kaca itu jatuh
Jatuh berhamburan dari jendela hati
Lagi...
Lagi-lagi aku membuat kesalahan
Kesalahan yang menorehkan luka lebih dalam di hati
Lagi...
Lagi-lagi aku terlambat
Untuk menarik diri secara aman
Lagi...
Lagi-lagi aku harus mundur
Dengan prajurit yang penuh luka
Kekalahan ini sudah kulihat
Kekalahan ini sudah kuketahui
Sejak awal...
Entah mengapa
Entah apa
Aku tetap melangkah
Menuruti kata hati
Mengikuti ego diri
Dengan mengorbankan prajurit-prajurit
Bangga akan ketahananku menghadapi pertempuran yang kukira sejenis
Bangga akan rekorku mengalahkan musuhku dalam pertempuran yang kukira serupa
Kebanggaanku membuatku kalah
Kebanggaanku membuatku lengah
Kebanggaanku membuatku memandang enteng peperangan di hadapan mataku
Tetapi aku lupa
Dalam setiap pertempuran yang kuanggap kumenangkan
Dalam setiap pertempuran yang tahan kulalui
Selalu berakhir dengan luka yang tidak ringan
Sekarang belumlah terlambat
Sekarang belumlah final
Prajuritku masih tersisa walau sedikit
Meski harus terseok-seok
Meski harus memakan waktu lebih lama
Aku harus mundur
Apakah aku benar-benar bisa mundur?
Sedangkan piala kemenangan yang sudah kuketahui tak mungkin kudapatkan
Tampak begitu menggoda
Namun tak apa
Kini semuanya sudah jelas
Sebening kristal
Dengan berbekal pengetahuan ini
Aku bisa lebih mantap untuk mundur
Yang sebelumnya ragu kulakukan karena berbagai pikiran positif dan kemungkinanku
Terima kasih Tuhan, karena sudah dibukakan begitu jelas
Terima kasih Tuhan, karena sudah mendidikku begitu keras
Sehingga aku bisa menjadi diriku yang berprinsip
Dan tidak membiarkan diri diinjak-injak oleh orang lain.
Pulkam
Jumat, 24 Februari 2012. Hari ini rencananya mau pulkam, dari hari selasa sudah coba cek schedule travel, tapi ternyata untuk keberangkatan sore sudah penuh semua.
Nyari-nyari di travel lain selain travel langganan juga sama, penuh.
Satu-satunya harapan tinggal travel D, soalnya dia bilang kadang bikin schedule pemberangkatan dadakan,,,, apa ada ya... Kebagian nggak ya...
Ternyata minat orang sini untuk pulang setiap hari Jumat itu tinggi ya.
Karena setiap kali mau pulang sore dari sini, hampir selalu tidak bisa bookingnya, karena sudah penuh.
Mungkin kalo ternyata memang tidak dapat, nanti sore mau langsung ke kantor agentnya buat booking yang tanggal 9, soalnya kalau nggak pulang-pulang, orang rumah udah nagih terus...
ckckkk...
Kadang jadi mikir, Jakarta memang banyak sekali pendatangnya, tapi berarti banyak sekali ya, yang rajin pulang tiap minggu. Karena sewaktu di Cikarang saja, tidak setiap minggu orang pulang menggunakan jasa travel P yang ada di sana. Padahal secara harga, travel P setengahnya dari yang ada di sini.
Kalau ingat biaya hidup, lebih baik yang di Cikarang sih, tapi di sini saya jadi punya mimpi, merasa punya tujuan dalam pekerjaan, yang mana ini tidak saya miliki sewaktu masih bekerja disana. That's what is important, I think.
Whatever the risks are, I hope I can always face the challenges positively and reacted to them positively too!! Have a good day, readers!!
Nyari-nyari di travel lain selain travel langganan juga sama, penuh.
Satu-satunya harapan tinggal travel D, soalnya dia bilang kadang bikin schedule pemberangkatan dadakan,,,, apa ada ya... Kebagian nggak ya...
Ternyata minat orang sini untuk pulang setiap hari Jumat itu tinggi ya.
Karena setiap kali mau pulang sore dari sini, hampir selalu tidak bisa bookingnya, karena sudah penuh.
Mungkin kalo ternyata memang tidak dapat, nanti sore mau langsung ke kantor agentnya buat booking yang tanggal 9, soalnya kalau nggak pulang-pulang, orang rumah udah nagih terus...
ckckkk...
Kadang jadi mikir, Jakarta memang banyak sekali pendatangnya, tapi berarti banyak sekali ya, yang rajin pulang tiap minggu. Karena sewaktu di Cikarang saja, tidak setiap minggu orang pulang menggunakan jasa travel P yang ada di sana. Padahal secara harga, travel P setengahnya dari yang ada di sini.
Kalau ingat biaya hidup, lebih baik yang di Cikarang sih, tapi di sini saya jadi punya mimpi, merasa punya tujuan dalam pekerjaan, yang mana ini tidak saya miliki sewaktu masih bekerja disana. That's what is important, I think.
Whatever the risks are, I hope I can always face the challenges positively and reacted to them positively too!! Have a good day, readers!!
2012年2月23日木曜日
Tanpa Judul
Semakin bingung..
Sungguh ku semakin bingung
Kala hati menjerit dan kuabaikan,
Aku pun menjadi patung yang tak berperasaan
Namun
Kala batin merengek dan kutanggapi
Semakin sakit dan banyak luka yang kumiliki
Aku tidak mengerti
Bagaimana
Apa
Aku tidak mengerti
Kala asa tak terjawab
Ku hanya mampu bergulung di sudut sepi
Berselimutkan kepedihan
Dengan pandangan nanar
Apakah itu cengeng
Apakah itu manja
Apakah itu tegar
Apakah itu kuat
Kala makna semua pengertian itu tercampur aduk
Kala semua pengertian itu menjadi semu
Dan tidak berbatas
Sendu biru datang menghantui
Menguasai
Menjadikan kaki yang menopang diri ini lemah lunglai
Berpasrah pada gravitasi takdir
Hai mata
Hai hati
Hai pikiran
Apa kabarmu?
Ditulis 22 Februari 2012, pukul 22.55
2012年2月22日水曜日
Pertama kutanya dia diam...
Kedua kutanya, dia tidak menjawab pertanyaanku...
Ketiga untuk kupastikan, dia hanya tertawa...
Sepertinya benar apa yang kupikirkan. Benar apa yang kuduga, atau mungkin dia sendiri bahkan tidak jelas mengetahui bagaimana situasi yang sebenarnya.
It's OK. Kalaupun dugaanku benar, kalaupun pemikiranku benar.
Itu yang terbaik. Selama dia memang bahagia, why not. Cuma bisa turut bahagia. Pikiran egois terkadang masih lewat di benak dan pikiranku. Tapi selalu kutegaskan pada diriku sendiri, ini yang terbaik buat dia. Setidaknya sepengetahuanku, ini yang terbaik buat dia! Yang terbaik juga untukku, supaya tidak lebih lama lagi terbenam dalam lumpur keraguan.
It's OK. Aku hanya perlu menarik nafas, think positive, and everything shall be OK.
Memulai pagi ini dengan semangat sendu, but keep fighting!! Yosh, be strong, girl!!
Kedua kutanya, dia tidak menjawab pertanyaanku...
Ketiga untuk kupastikan, dia hanya tertawa...
Sepertinya benar apa yang kupikirkan. Benar apa yang kuduga, atau mungkin dia sendiri bahkan tidak jelas mengetahui bagaimana situasi yang sebenarnya.
It's OK. Kalaupun dugaanku benar, kalaupun pemikiranku benar.
Itu yang terbaik. Selama dia memang bahagia, why not. Cuma bisa turut bahagia. Pikiran egois terkadang masih lewat di benak dan pikiranku. Tapi selalu kutegaskan pada diriku sendiri, ini yang terbaik buat dia. Setidaknya sepengetahuanku, ini yang terbaik buat dia! Yang terbaik juga untukku, supaya tidak lebih lama lagi terbenam dalam lumpur keraguan.
It's OK. Aku hanya perlu menarik nafas, think positive, and everything shall be OK.
Memulai pagi ini dengan semangat sendu, but keep fighting!! Yosh, be strong, girl!!
Make Up
Pagi tadi bangun dengan mata yang terasa berat....
Kulihat cermin, ternyata benar, mataku bengkak! Aneh, padahal semalam sudah kukompres dengan air dingin, dan biasanya manjur, tidak berbekas. Mungkin semalam kurang lama dikompresnya. Atau airnya yang kurang dingin? Yaa, dulu biasanya aku pakai air es, tapi berhubung semalam tidak ada stok air es, mau bagaimana lagi.
Selesai mandi, berharap, bengkaknya berkurang gara2 air shower yang dingin *ngayal*, but it's still there after all! Hahahaaa.... Yaa terpaksa mengeluarkan jurus terakhir, eyeliner yang lebih dibentuk dan lebih tebal dari biasanya... Well, hasilnya lumayan... *grin* Walaupun agak sedikit kurang seimbang, karena bentuk bengkak di kedua matanya memang nggak sama. ~_____~;
Mungkin aku harus sedikit belajar lagi tentang make up, make up cukup sakti untuk saat-saat darurat seperti ini.
2012年2月21日火曜日
"Sendirian Aja?"
"Sendirian aja?"
Sedikit kaget dan terhentak waktu lagi asik nonton TV, dan tetangga kamar menanyakan itu. Jawaban yang kuberikan hanya tertawa kecil "hehe".
Pada satu waktu, aku sempat mampu merasa cuek terhadap pertanyaan seperti itu. Tapi sebenarnya bukan cuek, tapi aku mematikan suara di pikiran dan hatiku yang bereaksi terhadap pertanyaan itu.
Sejujurnya, i hate being alone. Kalopun harus sendirian, aku memilih tempat yang sedikit orangnya dan sekiranya tidak ada yang mengenalku disana. I hate being recognized as a lonely person!
Walaupun banyak yang mungkin menilaiku pasif atau agak pemalu, tapi bukan berarti aku senang sendirian. I enjoy being with others. Seringkali merasa cengeng terhadap jalan pikirku ini. Tapi aku tidak berniat untuk lagi menutup pikiran dan hati untuk apa yang aku pikirkan dan rasakan, lagi! Aku tidak mau kehilangan kontak atau feeling lagi terhadap apa yang aku pikirkan atau rasakan. Saat kehilangan kontak dengan batin sendiri, aku merasa seperti patung, boneka yang menunggu perintah untuk digerakkan. Walau digerakannya oleh diri sendiri, atau lebih tepatnya logika diri. I hate it.
Aku sudah memutuskan untuk mencoba jujur terhadap diri sendiri juga, bukan terhadap orang lain saja. I am trying to live as me!
2012年2月20日月曜日
Kepribadian
"Menurutmu aku seperti apa sih?"
Pertanyaan ini sejak dahulu kadang secara iseng kutanyakan pada teman-temanku.
Dan untuk pertama kalinya, pertanyaan ini untuk pertama kalinya kutanyakan secara serius pada seorang temanku.
Pembawaanku yang sering memikirkan posisi orang lain lebih dari posisi diri sendiri lah, yang menjadi pemicu, mengapa imej yang tertangkap oleh orang lain itu terasa penting.
Ya, itu memang penting, tapi tidak menjadi tolok ukur perubahan karakterku.
Setidaknya itu yang selalu ada di pikiranku hingga minggu lalu.
Entah karena pengaruh suasana tempat kerja yang baru atau apa, dan karakter orang-orang disini, yang mungkin bisa dibilang tidak ada orang yang pasif, saya jadi mulai berpikir, apa tidak apa-apa jika aku tetap terus menjadi diri sendiri...
Tapi saya bersyukur sudah berdiskusi dengan dia, setidaknya pikiran saya jadi lebih terbuka dan merasa bersyukur telah menjadi diri sendiri. Toh perjuangan yang selama ini saya lakukan untuk bisa mencapai diri saya yang sekarang itu tidak mudah, harus saya hargai apa yang sudah saya capai sampai sekarang ini.
Makasih banyak to that friend of mine. You helped me a lot!! Glad to know you. :)
Anyway, di tengah kebingungan di lingkungan kerja yang baru ini, berkat dia, saya mulai berpikir, kalaupun adaptasi karakter itu memang perlu, biarlah dilakukan secara alami, sesuai prosesnya saja, tidak perlu dipaksakan. Enjoy the time!
Kentang
Kentang oh kentang...
Betapa bervariasinya dirimu
Padahal hanya sekedar kentang
Tapi rasa dan lembutmu bisa berbeda-beda di tiap restoran
Walaupun menunya sama-sama kentang goreng
Kentang oh kentang
Kenapa kamu cepat sekali habis
*lirik kantong french fries yang kosong*
Sekarang apa yang harus kulakukan tanpa dirimu
Sedang aku masih menanti waktu disini.. Sendiri...
#lagingaco
--> Ditulis tanggal 19 Februari 2012, pukul 19.25
Betapa bervariasinya dirimu
Padahal hanya sekedar kentang
Tapi rasa dan lembutmu bisa berbeda-beda di tiap restoran
Walaupun menunya sama-sama kentang goreng
Kentang oh kentang
Kenapa kamu cepat sekali habis
*lirik kantong french fries yang kosong*
Sekarang apa yang harus kulakukan tanpa dirimu
Sedang aku masih menanti waktu disini.. Sendiri...
#lagingaco
--> Ditulis tanggal 19 Februari 2012, pukul 19.25
Pikiran
"Gila... Rasanya aku mulai gila, masa pagi-pagi gini udah kangen dan mulai mikir macem-macem?? Aaaahh...!! Self-control!!"
Pagi ini pikiranku disibukkan dengan pikiran di atas. Rasanya pikiran ini mulai aneh! Padahal seharusnya pikiran dan perasaan ini harus kukontrol! Harus! Proses penterjemahan kata-kata yang diterima juga harus "dinetralkan"!
Biasanya ungkapan yang terlalu terbuka seperti ini tidak pernah saya tuliskan di blog ini, tapi rasanya kalau tidak kuisi waktuku dengan menulis ini dan menuangkannya, aku akan terpaku pada perangkat genggamku dan berpikir macam-macam.
Sepertinya akhu harus mulai memikirkan cara untuk mengalihkan pikiran ini.
Pagi ini pikiranku disibukkan dengan pikiran di atas. Rasanya pikiran ini mulai aneh! Padahal seharusnya pikiran dan perasaan ini harus kukontrol! Harus! Proses penterjemahan kata-kata yang diterima juga harus "dinetralkan"!
Biasanya ungkapan yang terlalu terbuka seperti ini tidak pernah saya tuliskan di blog ini, tapi rasanya kalau tidak kuisi waktuku dengan menulis ini dan menuangkannya, aku akan terpaku pada perangkat genggamku dan berpikir macam-macam.
Sepertinya akhu harus mulai memikirkan cara untuk mengalihkan pikiran ini.
2012年2月18日土曜日
Sesak
Siang hari ini terasa hening
Terdengar bunyi gergaji mesin
Namun terasa hening...
Kutanya pada diriku, mengapa
Tak bisa kujawab
Kutanya pada perangkat genggamku
Dia pun hening
Jawab yang sebenarnya kuketahui,
Namun tak mau kuakui
Aku mungkin egois
Kadang ku bertanya pada cermin
Kemanakah diriku yang kuat?
Kemanakah diriku yang mampu berdiri sendiri?
Ku tahu jawabannya
Namun tak mau ku akui
Ku tahu jawabannya
Namun tak mau ku dengar
Semata karena ku takut
Semata karena ku khawatir
Saat kuakui semua menjadi nyata
Saat kuakui semua berakhir tidak seperti yang diinginkan
Aku lelah...
Aku lelah dengan perulangan ini
Aku lelah dengan penyangkalan diri ini
Aku semakin tidak kuat untuk menanggung segalanya sendirian lagi
Ku tahu manusia tak sempurna
Ku tahu diriku banyak kekurangan
Jika bisa, kuingin pergi kesana
Jika bisa, kuingin berada dengan dia
Tapi aku takut
Apabila kupenuhi keinginanku, rasa ini akan semakin menggila
Apabila kupenuhi keinginanku, semakin ku tak dapat mengontrol hati ini
Bisakah aku menutup hati
Bisakah aku menutup mata ini
Sedangkan rasa ini sudah demikian besar
Dan menjadi ancaman bagi rasionalitasku
Terdengar bunyi gergaji mesin
Namun terasa hening...
Kutanya pada diriku, mengapa
Tak bisa kujawab
Kutanya pada perangkat genggamku
Dia pun hening
Jawab yang sebenarnya kuketahui,
Namun tak mau kuakui
Aku mungkin egois
Kadang ku bertanya pada cermin
Kemanakah diriku yang kuat?
Kemanakah diriku yang mampu berdiri sendiri?
Ku tahu jawabannya
Namun tak mau ku akui
Ku tahu jawabannya
Namun tak mau ku dengar
Semata karena ku takut
Semata karena ku khawatir
Saat kuakui semua menjadi nyata
Saat kuakui semua berakhir tidak seperti yang diinginkan
Aku lelah...
Aku lelah dengan perulangan ini
Aku lelah dengan penyangkalan diri ini
Aku semakin tidak kuat untuk menanggung segalanya sendirian lagi
Ku tahu manusia tak sempurna
Ku tahu diriku banyak kekurangan
Jika bisa, kuingin pergi kesana
Jika bisa, kuingin berada dengan dia
Tapi aku takut
Apabila kupenuhi keinginanku, rasa ini akan semakin menggila
Apabila kupenuhi keinginanku, semakin ku tak dapat mengontrol hati ini
Bisakah aku menutup hati
Bisakah aku menutup mata ini
Sedangkan rasa ini sudah demikian besar
Dan menjadi ancaman bagi rasionalitasku
2012年2月17日金曜日
Blogging
Sore hari ini gerimis, mungkin sebenarnya tidak masalah juga kalau langsung pulang. Tapi sebelumnya, saya ingin menyelesaikan tugas dahulu, supaya tidak ada PR untuk hari Senin nanti.
Saya bolak-balik kertas dalam buku agenda saya, melihat kembali catatan-catatan yang nantinya harus saya rangkum ke dalam laporan, lalu terhenyak melihat 2 lembar tulisan tangan saya di bagian tengah buku yang menggunakan tinta merah dan biru. Itu adalah tulisan saya, curhatan saya sebelum saya mulai menulis blog ini.
Mungkin secara emosi, saya kurang bisa berekspresi (kecuali pada yang saya nyaman, dan merasa dekat). Kadang malah kakak saya bilang kalau ekspresi saya itu datar, termasuk teman-teman di kelas training hari ini. Hmmm... apa memang begitu juga ya? *tertawa*
Tapi kalau mereview kembali kebiasaan saya yang pada saat ada emosi yang agak explode, cenderung saya tuangkan dalam tulisan, bisa jadi. Karena berarti saya biasa berekspresi di atas kertas. Walau saat menuliskan di atas kertas, tidak pernah dipikirkan pola dan struktur bahasanya, karena curhatan murni. *LOL*
Sebenarnya, awal tujuan saya membuat blog ini supaya Go Green, soalnya pengalaman di tempat kerja dahulu, sudah beberapa buku saya habiskan hanya untuk menuliskan apa yang saya pikirkan, curhatan, dan ide-ide serta imajinasi saya.
Dan ternyata, menuliskan curhatan di blog umum yang bisa dibuka oleh siapa saja, memang tidak senyaman, seterbuka menulis di buku sendiri. Tapi hikmahnya, saat menuliskan di sini, saya bisa sambil mereview, menata pikiran dan emosi saya, supaya tidak terlalu "liar" dalam pikiran dan hati. Hahahaa.....
Dan hikmah yang lain, saat menuliskan dalam buku, emosi saya benar-benar keluar, dan emosi negatif yang dibiarkan keluar tersebut entah kenapa malah semakin menjadi. Sedangkan kalau menulis di blog, sepertinya emosi saya bisa lebih terkontrol, mungkin karena dengan menulis di blog, saya jadi membiasakan diri untuk mengendalikan diri.
Yaa, intinya I'm glad i have created this blog. :)
Saya bolak-balik kertas dalam buku agenda saya, melihat kembali catatan-catatan yang nantinya harus saya rangkum ke dalam laporan, lalu terhenyak melihat 2 lembar tulisan tangan saya di bagian tengah buku yang menggunakan tinta merah dan biru. Itu adalah tulisan saya, curhatan saya sebelum saya mulai menulis blog ini.
Mungkin secara emosi, saya kurang bisa berekspresi (kecuali pada yang saya nyaman, dan merasa dekat). Kadang malah kakak saya bilang kalau ekspresi saya itu datar, termasuk teman-teman di kelas training hari ini. Hmmm... apa memang begitu juga ya? *tertawa*
Tapi kalau mereview kembali kebiasaan saya yang pada saat ada emosi yang agak explode, cenderung saya tuangkan dalam tulisan, bisa jadi. Karena berarti saya biasa berekspresi di atas kertas. Walau saat menuliskan di atas kertas, tidak pernah dipikirkan pola dan struktur bahasanya, karena curhatan murni. *LOL*
Sebenarnya, awal tujuan saya membuat blog ini supaya Go Green, soalnya pengalaman di tempat kerja dahulu, sudah beberapa buku saya habiskan hanya untuk menuliskan apa yang saya pikirkan, curhatan, dan ide-ide serta imajinasi saya.
Dan ternyata, menuliskan curhatan di blog umum yang bisa dibuka oleh siapa saja, memang tidak senyaman, seterbuka menulis di buku sendiri. Tapi hikmahnya, saat menuliskan di sini, saya bisa sambil mereview, menata pikiran dan emosi saya, supaya tidak terlalu "liar" dalam pikiran dan hati. Hahahaa.....
Dan hikmah yang lain, saat menuliskan dalam buku, emosi saya benar-benar keluar, dan emosi negatif yang dibiarkan keluar tersebut entah kenapa malah semakin menjadi. Sedangkan kalau menulis di blog, sepertinya emosi saya bisa lebih terkontrol, mungkin karena dengan menulis di blog, saya jadi membiasakan diri untuk mengendalikan diri.
Yaa, intinya I'm glad i have created this blog. :)
2012年2月13日月曜日
Dilema
Mungkin banyak orang yang sudah sering menghadapi yang namanya "DILEMA". Satu kosa kata yang buat saya sesak dan otak jadi seperti benang kusut. Karena harus memutuskan dari dua atau beberapa pilihan yang tidak ingin dipilih.
Sekarang ini saya sedang dilema. Mungkin kalau saya ceritakan akan banyak yang menganggap kalau dilema saya sepele, dan mungkin sedikit yang bisa sealam pikiran dengan saya *LOL*.
Kakak saya dan bahkan saya sendiri kadang berpikir kalau saya itu agak perfeksionis. Sebenarnya tidak juga, kalau terhadap orang lain bisa dibilang, saya tidak pernah menuntut kesempurnaan, karena saya paham, tidak ada manusia yang sempurna, semua punya pola pikirnya masing-masing. Namun bagi saya, selalu menuntut kesempurnaan pada diri sendiri. Harus memiliki pola pikir yang "begini", harus bisa bereaksi "begitu", harus, harus dan harus.
Kalau ditanya, apa tidak capek dengan pikiran saya yang seperti itu, ya saya capek. Tapi saya memilih untuk capek demi tidak menapaki jalan yang salah, langkah yang salah, untuk mencegah error di kemudian hari. Ya, saya capek karena saya jadi sering atau malah hampir selalu mengabaikan apa yang menjadi keinginan saya, yang menjadi egoisme saya, yang menjadi tuntutan batin saya selama ini. Sampai pernah pada suatu periode, saya merasa "mati rasa". Hampir tidak bisa mendengar apa yang hati katakan, apa yang hati rasakan, dan baru terdeteksi saat sudah menumpuk banyak dan tahu-tahu keluar begitu saja. Pada titik ini, saya mulai berpikir, tidak boleh mengabaikan hati, tidak boleh terlalu keras, harus didengarkan. Karena apapun bentuknya, "ledakan" itu adalah sesuatu yang berlebihan, dan segala sesuatu yang berlebihan itu tidak ada yang baik. Kemudian berpikir lagi, apa saya terlalu keras pada diri sendiri? Jawabannya kemungkinan besar adalah Ya, sudah saya sadari sejak setengah tahun belakangan ini. Oleh karena itu, sekarang ini saya sedang men-terapi diri sendiri, untuk mendengarkan setiap yang hati katakan, inginkan, namun untuk pelaksanaannya masih akan masuk pertimbangan apakah baik atau tidaknya.
Karena dari yang saya rasakan, jika terlalu menuruti keinginan, egoisme diri, akan jadi kurang mawas diri, dan semakin lemah. Entah pandangan saya ini tepat atau tidak, di saat saya sering memanjakan emosi saya (spritual needs), saya menjadi semakin lemah, di saat saya seharusnya tidak lemah. Dan saya merasa sekarang ini adalah keadaan terlemah saya dari hidup yang selama ini saya jalani. Dan saya merasa, jika ini berlanjut, saya akan semakin lemah dari kondisi sekarang. Saya sekarang ini merasa tidak mampu untuk tegas pada diri sendiri, tidak mampu untuk menuntut diri melakukan apa yang sudah seharusnya dan sewajarnya dilakukan dalam sistem pemikiran saya.
Benar-benar buntu.
2012年2月10日金曜日
Ngegodain
"Ngegodain"... Kata-kata ini pasti udah familiar bagi siapapun. Kadang-kadang mikir juga dalam hati, sebenarnya arti dari menggoda itu apa, soalnya tujuan tiap orang buat menggoda itu beda-beda kan.
Ada yang untuk mendapatkan hati sang pujaan, ada yang untuk mendapat perhatian, atau sekedar bercanda mengisi kejenuhan. Kadang dalam hati berpikir, kalau menggoda itu konteksnya sudah lawan jenis, apa sudah pasti tujuannya yang pertama (mendapatkan hati pujaan)?
Entah ini disebut self-denial atau apa, tapi saya sendiri kalau ada yang menggoda, secara otomatis saya langsung transfer, dan terjemahkan secara positif, "oh, dy mw berteman dengan saya" atau "oh, dia sedang bercanda dengan saya".
Mungkin bagi sebagian orang, saya dinilai pengecut untuk menilai situasi ke arah "sana", tapi itu settingan pola pikir yang sudah saya taruh di kepala saya. Keep positive thinking (ampe kebablasan positifnya kadang-kadang). Sebenarnya alam bawah sadar (istilahnya mistik amat) saya sendiri sudah memahami, tapi pikiran saya sering saya kontrol dengan ketat dan kuat. Saya tidak tahu ini baik atau tidak, tapi setidaknya ini "pagar" saya.
Kadang memang berpikir, apakah pagar ini terlalu tinggi? Who knows? Kadang saya juga tidak mengerti, kadang saya berpikir kalau "ketinggian" pagar ini diperlukan di saat-saat tertentu.
Tapi yah, setidaknya yang saya alami, saya cukup tertolong dengan adanya pagar ini.
Dan kadang-kadang juga agak nyesek dan menderita sama ketinggiannya. *LOL*
Yaa.... everything has its own merits and demerits. That's just normal. Yang penting, hormati keputusan yang sudah diambil, dan pikirkan apa yang harus sekarang dan nanti dilakukan terhadap keputusan yang sudah diambil. Enjoy your life, don't fret on to the past too much, it'll take your happiness away!
2012年2月9日木曜日
New Job
Mungkin bagi sebagian pembaca, sudah terbiasa yang namanya pindah kerja. Dan mungkin sudah terbiasa dengan irama penyesuaian diri, dan tau berapa lama sampai bisa benar-benar terbiasa.
Akhir tahun kemarin, saya baru pindah kerja ke tempat baru dengan bidang yang benar-benar baru.
udah kaya banting setir.... -___-; tapi karena masih ada hubungannya dengan bidang yang saya sukai, i wanted to challenge myself! akhirnya here I am... tiba-tiba merasa terdampar....
Nggak seperti bayangan, dari ritme kerja, bidang kerja, dan aktual pekerjaan sehari-harinya.
Bos sih bilang, kalau sudah lancar, pasti megang bidang yang menjadi alasan saya pindah ke tempat baru ini. But still, saya belom bisa mengerti ritmenyaaa~~
Aihhh,,, yah eniwey busway, karena emang masih pingin coba, masih penasaran, masih ingin mendalami, masih eksis di tempat kerja yang sekarang. Merasa worthed untuk dicoba. Nggak tau juga ntar ujungnya gimana, pokonya jalanin dulu.
We never know if we never try...
Akhir tahun kemarin, saya baru pindah kerja ke tempat baru dengan bidang yang benar-benar baru.
udah kaya banting setir.... -___-; tapi karena masih ada hubungannya dengan bidang yang saya sukai, i wanted to challenge myself! akhirnya here I am... tiba-tiba merasa terdampar....
Nggak seperti bayangan, dari ritme kerja, bidang kerja, dan aktual pekerjaan sehari-harinya.
Bos sih bilang, kalau sudah lancar, pasti megang bidang yang menjadi alasan saya pindah ke tempat baru ini. But still, saya belom bisa mengerti ritmenyaaa~~
Aihhh,,, yah eniwey busway, karena emang masih pingin coba, masih penasaran, masih ingin mendalami, masih eksis di tempat kerja yang sekarang. Merasa worthed untuk dicoba. Nggak tau juga ntar ujungnya gimana, pokonya jalanin dulu.
We never know if we never try...
First Blog
Blog pertama - haahh,,,,,
Selama ini nggak pernah kepikiran buat bikin blog, sama sekali.
Kalau ditanya kenapa, karena nggak terlalu berminat tulis menulis atau mengekspos kehidupan pribadi. But well, on second thought, nggak harus segamblang itu kan.
Yaa... pokonya disini mungkin bakal ada curcol-curcolan,, kadang juga mungkin share info atau sekedar pola pikir saya. Yaa.. mohon maaf juga sebelumnya kalau ada yang merasa nggak nyaman membaca tulisan saya. Saya masih baru dan belum tau banyak. Kalau ada kesalahan, please tell!
Selama ini nggak pernah kepikiran buat bikin blog, sama sekali.
Kalau ditanya kenapa, karena nggak terlalu berminat tulis menulis atau mengekspos kehidupan pribadi. But well, on second thought, nggak harus segamblang itu kan.
Yaa... pokonya disini mungkin bakal ada curcol-curcolan,, kadang juga mungkin share info atau sekedar pola pikir saya. Yaa.. mohon maaf juga sebelumnya kalau ada yang merasa nggak nyaman membaca tulisan saya. Saya masih baru dan belum tau banyak. Kalau ada kesalahan, please tell!
登録:
コメント (Atom)




















